5 Bahaya Makan Mi Instan Mentah, Awas Radang Usus!

Daftar Isi

Jakarta -

Mi instan menjadi salah satu makanan favorit karena praktis, murah, dan mudah ditemukan. Bahkan, tidak sedikit yang menikmatinya langsung dari kemasan sebagai camilan renyah tanpa diseduh terlebih dahulu.

Kebiasaan tersebut sempat menjadi sorotan setelah beberapa waktu lalu seorang remaja berusia 13 tahun asal Mesir pada tahun 2025 dilaporkan meninggal dunia usai mengonsumsi tiga bungkus mi instan mentah. Berdasarkan hasil penyelidikan, penyebab kematian diduga berkaitan dengan gangguan usus akut atau penyumbatan saluran pencernaan setelah mengonsumsi mi instan mentah dalam jumlah besar. Kasus ini pun memicu kekhawatiran mengenai keamanan kebiasaan mengonsumsi mi instan tanpa dimasak.

Mi instan termasuk ultra-processed food (UPF), yaitu pangan yang dibuat melalui berbagai tahapan pengolahan industri dan umumnya mengandung bahan tambahan seperti pengawet, penstabil, penguat rasa, hingga perisa. Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan konsumsi UPF yang terlalu sering berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai penyakit kronis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat dikonsumsi dalam keadaan mentah, ada pula risiko tambahan yang perlu diperhatikan, terutama yang berkaitan dengan sistem pencernaan. Berikut beberapa dampaknya.

Lebih Sulit Dicerna

Mi instan sebenarnya dirancang untuk dikonsumsi setelah proses pemasakan. Proses pemanasan membuat pati menyerap air dan menjadi lebih mudah dicerna oleh enzim di saluran cerna.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Food Research International tahun 2025 menunjukkan proses hidrasi dan pemanasan membantu mengubah struktur pati sehingga lebih mudah dicerna dibandingkan saat masih kering.

Karena teksturnya masih keras dan kadar airnya sangat rendah, mi instan mentah membutuhkan proses pencernaan yang lebih lama. Kondisi ini dapat memicu rasa begah, perut tidak nyaman, atau gangguan pencernaan pada sebagian orang, terutama jika dikonsumsi dalam jumlah banyak.

Meningkatkan Risiko Iritasi dan Radang Usus

Mi instan mentah umumnya dikonsumsi bersama bumbu yang ditaburkan langsung tanpa melalui proses pelarutan. Kombinasi tekstur mi yang masih keras dengan bumbu berkadar garam tinggi dapat memberikan beban lebih besar pada saluran pencernaan, terutama jika dikonsumsi terlalu sering atau dalam jumlah banyak.

Kandungan natrium yang tinggi diketahui dapat memengaruhi keseimbangan mikrobiota usus dan memicu respons peradangan. Penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Nutrition pada 2022 menunjukkan pola makan tinggi garam berkaitan dengan perubahan komposisi bakteri usus yang dapat mengganggu kesehatan saluran cerna dan meningkatkan respons inflamasi. Selain itu, konsumsi garam berlebih dapat melemahkan lapisan pelindung usus dan memperburuk proses peradangan, terutama pada individu yang sudah memiliki gangguan pencernaan.

Karena itu, mengonsumsi mi instan mentah bersama bumbunya secara berulang tidak hanya berpotensi memicu iritasi saluran cerna, tetapi juga dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan usus dalam jangka panjang.

Meningkatkan Risiko Hipertensi, Penyakit Jantung, dan Stroke

Mi instan mentah maupun matang umumnya tetap mengandung natrium yang tinggi, terutama jika dikonsumsi bersama bumbunya. Asupan natrium yang berlebihan diketahui dapat meningkatkan tekanan darah.

Dalam jangka panjang, kebiasaan mengonsumsi mi instan terlalu sering, baik mentah maupun matang, dapat meningkatkan risiko hipertensi. Hipertensi sendiri merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke.

Karena itu, bukan hanya cara mengonsumsinya yang perlu diperhatikan, tetapi juga frekuensi konsumsinya agar tidak berlebihan.

Berisiko Melukai Rongga Mulut

Mi instan mentah memiliki tekstur yang keras. Ketika dikunyah, tekstur mi yang keras tersebut dapat menggores gusi, langit langit mulut, bagian dalam pipi, hingga tenggorokan sehingga menimbulkan luka ringan.

Risiko tersedak juga lebih tinggi karena mi yang kering lebih sulit ditelan dibandingkan mi yang sudah dimasak.

Meningkatkan Risiko Kanker

Mi instan termasuk kelompok UPF yang mengandung berbagai bahan tambahan pangan untuk menjaga cita rasa, tekstur, dan masa simpan produk.

Sejumlah penelitian dalam beberapa tahun terakhir menemukan bahwa konsumsi UPF secara berlebihan dan terus menerus berkaitan dengan peningkatan risiko berbagai jenis kanker. Karena itu, meski sesekali mengonsumsi mi instan mentah tidak selalu menimbulkan dampak langsung, kebiasaan menjadikannya camilan sehari-hari tetap tidak dianjurkan.

(mal/kna)