Jumat, 14 Agustus 2026 - 23:25 WIB
VIVA – Nama Joko Purnomo tiba-tiba mendapat perhatian setelah disebut Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan di Gedung DPR/MPR, Jumat, 14 Agustus 2026. Joko bukan pejabat, tokoh politik, maupun pengusaha besar.
Baca Juga
Ia adalah petani dari Desa Purwosari, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, yang selama sekitar 20 tahun menjalani kehidupan di tengah sawah.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Bagi Joko, menjadi petani bukan pilihan yang baru muncul ketika dewasa. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga petani. Sejak kecil, sawah sudah menjadi bagian dari kesehariannya, termasuk melihat sang ayah berangkat bekerja setiap pagi.
Baca Juga
“Kalau dikatakan menjadi petani kapan, sebenarnya kami lahir jadi anak petani. Jadi kami jadi petani ini mulai lahir,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari siaran pers, Jumat, 14 Agustus 2026.
Dari kehidupan sederhana di desa tersebut, Joko kemudian tumbuh menjadi Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Makmur. Ia tidak hanya mengelola sawah, tetapi juga berusaha mendorong petani di lingkungannya agar bisa bekerja dengan cara yang lebih efektif.
Baca Juga
Menariknya, posisi Joko sebagai ketua kelompok tani ternyata bukan sesuatu yang sejak awal ia rencanakan. Pada 2006, ia datang ke sebuah pertemuan yang membahas pembentukan kelompok tani.
Tanpa banyak persiapan, Joko justru terpilih menjadi ketua. Saat itu, ia bahkan belum mengetahui apa yang harus dilakukan dalam posisi tersebut.
Alih-alih mundur, Joko memilih belajar. Ia mulai mencari informasi, memahami berbagai hal mengenai kelompok tani, serta membangun pengetahuan bersama para anggota.
Perjalanan tersebut kemudian membentuk dirinya selama bertahun-tahun. Dari seorang petani yang awalnya tidak memahami tugas seorang ketua kelompok tani, Joko berkembang menjadi sosok yang mendorong penggunaan teknologi dalam pertanian di desanya.
Pernah Gadai BPKB untuk Beli Traktor
Perjalanan Joko sebagai petani juga tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal mengembangkan pertanian, keterbatasan modal menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapinya.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Untuk memiliki hand traktor, misalnya, Joko mengaku harus berutang. Ia bahkan menggadaikan BPKB kendaraan untuk membeli hand traktor bekas.
“Bagaimana waktu itu saya hand traktor ngutang dulu. Mesti gadaikan BPKB untuk bayar hand traktor walaupun itu bekas,” ungkap Joko.
Halaman Selanjutnya
Keputusan tersebut menjadi bagian dari usaha Joko untuk membuat pekerjaan di sawah menjadi lebih efisien. Seiring waktu, ia mulai menggunakan berbagai teknologi pertanian, mulai dari metode dapog untuk persemaian padi hingga sumur submersible untuk mendukung kebutuhan air.