Airlangga Respons soal Jurang Si Kaya dan Miskin Kian Melebar

Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto buka suara mengenai kenaikan tingkat ketimpangan di Indonesia setelah rasio gini (gini ratio) pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,368.

Airlangga mengatakan pemerintah akan terus mendorong penciptaan lapangan kerja dan menekan tingkat pengangguran.

Menurut Airlangga, penguatan program vokasi dan magang nasional menjadi dua di antara langkah yang ditempuh pemerintah untuk mempersempit jurang si kaya dan si miskin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Salah satunya juga mengganjel dengan vokasi dan juga magang, sehingga tentu kita bisa menekan gini ratio," ujarnya dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Rabu (5/8).

Selain itu, pemerintah juga melanjutkan kebijakan insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 atas Penghasilan Tertentu yang Ditanggung Pemerintah.

Melalui kebijakan tersebut, pegawai di sektor usaha tertentu yang memiliki penghasilan bruto maksimal Rp10 juta per bulan serta pegawai tidak tetap dengan rata-rata penghasilan harian maksimal Rp500 ribu atau bulanan maksimal Rp10 juta dapat memperoleh fasilitas PPh 21 yang ditanggung pemerintah.

"Di samping itu kita kan masih melanjutkan PPh ditanggung pemerintah untuk pekerja yang (penghasilan bulanannya) di bawah Rp10 juta," ujar Airlangga.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia yang diukur menggunakan gini ratio pada Maret 2026 sebesar 0,368.

Angka tersebut meningkat 0,005 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,363. Namun, angka itu masih lebih rendah 0,007 poin dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 0,375.

[Gambas:Youtube]

Apabila gini ratio ada di angka 0, ketimpangan pendapatan merata sempurna. Artinya, setiap orang atau kelompok menerima pendapatan yang sama dengan yang lainnya.

Jika gini ratio ada di angka 1, ketimpangan pendapatan timpang sempurna. Artinya, pendapatan itu hanya diterima oleh satu orang atau satu kelompok saja dan yang lainnya tidak sama sekali.

Semakin mendekati angka 0, distribusi pendapatan semakin merata. Sebaliknya, semakin mendekati angka 1 menunjukkan tingkat ketimpangan yang semakin tinggi.

BPS mencatat gini ratio di wilayah perkotaan pada Maret 2026 sebesar 0,387. Angka ini naik dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,383, tetapi lebih rendah dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 0,395.

Sementara itu, gini ratio di wilayah perdesaan tercatat sebesar 0,296 pada Maret 2026. Angka tersebut naik tipis dari September 2025 yang sebesar 0,295 dan turun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 0,299.

(dhz/sfr)