Selain AI dan energi hijau, pemerintah juga membidik industri semikonduktor sebagai motor pertumbuhan ekonomi baru. Permintaan global terhadap produk semikonduktor diproyeksikan mencapai US$ 1 triliun atau sekitar Rp 18.080 triliun pada 2030.
Pemerintah menargetkan Indonesia mampu membangun kemandirian industri chip melalui pengembangan desain semikonduktor serta kemampuan Assembly, Testing, and Packaging (ATP) di dalam negeri.
Airlangga juga menegaskan Indonesia tetap membuka peluang investasi asing. Berdasarkan survei Japan External Trade Organization (JETRO) 2025, Indonesia dinilai sebagai negara dengan iklim bisnis paling stabil dan menguntungkan dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya.
Pemerintah pun terus mempercepat penyelesaian berbagai Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA), proses aksesi OECD, serta menjadikan keanggotaan dalam Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) sebagai prioritas strategis.
"Tadi saya sampaikan kepada para Duta Besar bahwa ada beberapa MOU yang dihasilkan dalam kunjungan Bapak Presiden Prabowo sehingga kami berharap mereka juga ikut membantu Indonesia untuk mengawal realisasi daripada investasi. Karena, ada pendapat yang mengatakan bahwa kita perlu bekerja bersama untuk menavigasi ketidakpastian dalam ekonomi global. Mari kita manfaatkan kekuatan teknologi, energi hijau, dan kerja sama ekonomi bersama untuk membangun masa depan yang sejahtera bagi semua bangsa," tutur Airlangga.
Sementara itu, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya N. Bakrie menilai diplomasi ekonomi kini harus berjalan seiring dengan dunia usaha agar kerja sama antarnegara dapat menghasilkan investasi, perdagangan, dan penciptaan lapangan kerja.
"Bagi Indonesia, ini berarti diplomasi ekonomi tidak lagi dapat terpisah dari dunia usaha. Hubungan antar Pemerintah membutuhkan eksekusi antar bisnis di baliknya. Perjanjian tingkat tinggi harus diubah menjadi perdagangan, investasi, dan pada akhirnya menjadi lapangan kerja. Kadin Indonesia siap menjadi jembatan antara Pemerintah, dunia usaha, kamar dagang daerah, dan mitra internasional kita," pungkas Anindya.