Akademisi mengingatkan AI jadi tantangan besar bagi profesi psikolog

Akademisi mengingatkan AI jadi tantangan besar bagi profesi psikolog

Jumat, 21 Agustus 2026 21:09 WIB

Image Print

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Rahmat Hidayat, Ph.D saat menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis Ke-31 Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang, di Semarang, Jumat (21/8/2026). ANTARA/Zuhdiar Laeis

Semarang (ANTARA) - Dekan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rahmat Hidayat, PhD mengingatkan bahwa teknologi kecerdasan buatan atau "artificial intelligence" menjadi tantangan besar bagi profesi psikolog.

"Setiap perkembangan teknologi berdampak pada masyarakat dan memberikan nilai keuntungan, namun juga sisi lain menimbulkan berbagai masalah," katanya di Semarang, Jumat.

Hal itu disampaikannya dalam orasi ilmiah bertema "Psikologi yang Relevan dan Berdampak: Membangun Ekosistem Pendidikan di Tengah Perubahan Zaman" pada Dies Natalis Ke-31 Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro Semarang.

Menurut dia, AI adalah satu teknologi yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan teknologi lain yang sebelumnya dipandang sekadar sebagai alat.

Kata dia, AI memiliki potensi untuk menjadi pengganti bagi manusia karena memiliki kemampuan untuk memahami bahasa dan menghasilkan gagasan-gagasan.

"Ini AI memiliki potensi untuk menggantikan kita dan yang perlu kita pahami bahwa AI ini ada berbagai tipologi, berbagai karakteristik. Barangkali, profesi psikolog nanti akan bisa tergeser sepenuhnya oleh AI," katanya.

Dekan Fakultas Psikologi Undip Prof Dian Ratna Sawitri juga mengakui bahwa tantangan yang dihadapi psikolog saat ini adalah perkembangan teknologi AI yang sedemikian pesat.

"Apa-apa yang bisa dilakukan AI, apa sih yang bisa dilakukan manusia? Ini porsinya perlu jelas ya. Apakah betul konseling dengan 'chatbot' bisa tertangani?" katanya.

Ia menganalogikan dengan fenomena Gunung Kawi, yaitu ketika orang dulu memiliki masalah dalam kehidupannya memilih menuju ke dukun, tetapi sekarang bertanya ke "chatbot" AI.

Mungkin, kata dia, ide-idenya bisa didapatkan dengan bantuan AI, tetapi untuk melakukan analisis sintesa tentu perlu manusia dengan kemampuan logis, berpikir, dan kemampuan abstraksinya.

"Nah, psikologi masuknya di situ. Jadi, ketika orang cemas tidak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang bagaimana bisa adaptif, bagaimana sih bisa menjawab besok kita mau apa ya?" katanya.

Seiring dengan Dies Natalis Ke-31 Fakultas Psikologi Undip, ia menyampaikan pada tahun ini dibuka program profesi psikolog, untuk melengkapi program sarjana (S1) dan magister (S2) yang sudah ada.

"Ini perdana Fakultas Psikologi Undip membuka program profesi psikolog dan kami menerima 30 orang mahasiswa untuk angkatan pertamanya," katanya.

Sementara itu, Rektor Undip Prof Suharnomo mengatakan bahwa Fakultas Psikologi adalah fakultas paling muda, tetapi kiprahnya sangat luar biasa.

Terutama, jalinan kerja sama dengan mitra yang banyak sekali, mulai industri, perguruan tinggi, hingga institusi, seperti TNI Angkatan Darat (AD) dan Angkatan Laut (AL).

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.