Akademisi: Politik AS jelang pemilu momentum RI perkuat politik LN

Jakarta (ANTARA) - Direktur Paramadina Graduate School of Diplomacy (PGSD) di Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam, mengatakan Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri bebas dan aktif di tengah dinamika politik Amerika Serikat menjelang Pemilu Presiden 2028.

Dalam pernyataan yang dikonfirmasi di Jakarta, Sabtu, Umam menilai perubahan konfigurasi politik di Amerika Serikat perlu dicermati karena berpotensi berpengaruh terhadap arah kebijakan luar negeri negara tersebut.

"Indonesia perlu mempertahankan politik luar negeri bebas dan aktif, memperkuat hubungan dengan seluruh kekuatan besar, serta memanfaatkan setiap perubahan konfigurasi politik Amerika Serikat untuk memperluas kerja sama ekonomi, investasi, teknologi, dan keamanan tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik," jelasnya.

Hasil survei terbaru Granite State Poll dari University of New Hampshire Survey Center menunjukkan kontestasi menuju Pemilihan Presiden AS 2028 mengarah pada persaingan ideologi di internal Partai Demokrat.

Baca juga: Rubio: Konflik Iran tak berdampak signifikan pada pemilu sela AS

Menurut Umam, kenaikan dukungan terhadap Alexandria Ocasio-Cortez (AOC), dari 14 persen menjadi 22 persen, menunjukkan menguatnya pengaruh kubu progresif. Sementara itu, dukungan terhadap Pete Buttigieg tetap berada pada kisaran 19-21 persen yang mencerminkan kuatnya basis moderat.

Kemudian, penurunan dukungan terhadap Kamala Harris dan Gavin Newsom menunjukkan kelompok establishment mulai kehilangan dominasi politik.

Umam menyebutkan tiga poros kekuatan yang kini bersaing menentukan arah Partai Demokrat, yakni Progressive Democrats diwakili Alexandria Ocasio-Cortez dan Bernie Sanders, Moderate Democrats diwakili Pete Buttigieg dan Josh Shapiro, serta Establishment Democrats diwakili Kamala Harris dan Gavin Newsom.

Tiga poros kekuatan itu, lanjutnya, memiliki implikasi yang mampu melampaui politik domestik Amerika Serikat.

Baca juga: AS awasi pemilu di negara bagian yang tolak program SAVE

Dalam isu Iran-Israel, Umam mengatakan kekuatan kubu progresif berpotensi mendorong pendekatan lebih kritis terhadap dukungan tanpa syarat kepada Israel, dengan penekanan lebih besar pada diplomasi, hak asasi manusia (HAM), dan hukum humaniter internasional.

"Sebaliknya, kubu moderat cenderung mempertahankan komitmen terhadap aliansi strategis Amerika sambil mengelola eskalasi konflik melalui jalur diplomasi," tambahnya.

Mengenai kompetisi dengan China, Umam menilai siapa pun kandidat Partai Demokrat hampir pasti tetap mempertahankan strategic competition.

"Namun, kelompok moderat lebih mengedepankan penguatan aliansi, keamanan, dan daya saing ekonomi; sedangkan kelompok progresif mengaitkan persaingan dengan isu perubahan iklim, hak asasi manusia, teknologi, dan keadilan ekonomi global," ujarnya.

Baca juga: Trump "lebih suka" Vance daripada Rubio jadi ketua Partai Republik

Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor: Fransiska Ninditya
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.