Liputan6.com, Jakarta - Polisi membongkar aksi nekat satu keluarga yang berupaya membobol mesin ATM di dalam sebuah minimarket di kawasan Kapuk Raya, Cengkareng, Jakarta Barat.
Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Nasriadi mengatakan, dalam kasus yang dilaporkan pada Februari 2026 tersebut, para pelaku gagal mengambil uang dari mesin ATM setelah oksigen yang digunakan untuk mengelas mesin habis.
Tiga pelaku yang merupakan satu keluarga telah merencanakan aksi pencurian tersebut. Mereka terdiri dari bapak tiri berinisial RH, ibu kandung berinisial D, dan anak berinisial H.
“Pelakunya terdiri dari bapak tiri, anak, dan ibu. Anak dan ibu ini statusnya kandung, sedangkan bapaknya adalah bapak tiri,” kata Nasriadi dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.
Dalam menjalankan aksinya, RH dan H masuk ke dalam minimarket untuk membobol mesin ATM menggunakan peralatan las. Sementara D bertugas mengawasi kondisi di luar minimarket untuk memastikan situasi tetap aman.
Namun, aksi tersebut gagal setelah oksigen yang digunakan untuk proses pengelasan habis.
“Pelaku RH bersama H masuk ke dalam untuk membobol ATM, sedangkan ibu (D) menunggu di luar untuk melihat dan memantau situasi kondisi di luar. Setelah mereka masuk ke dalam dan mencoba menjebol ATM dengan cara mengelas, tiba-tiba bahan las, oksigen tersebut habis,” kata Nasriadi.
Karena gagal membuka mesin ATM, para pelaku kemudian mengalihkan sasaran dengan mengambil sejumlah rokok yang berada di dalam minimarket.
Dalam penyelidikan, polisi juga menemukan salah satu pelaku mengenakan pakaian yang menyerupai seragam karyawan minimarket.
“Pakaian tersebut dibeli secara daring dan diduga digunakan untuk mengelabui orang di sekitar lokasi maupun kamera CCTV,” katanya.
Polisi telah mengamankan dua dari tiga pelaku, yakni anak berinisial H dan ibu kandung berinisial D. Sementara itu, bapak tiri berinisial RH masih buron dan telah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
Nasriadi mengatakan aksi tersebut diduga dilatarbelakangi masalah ekonomi. Pelaku yang kini masuk DPO diduga membujuk istrinya untuk ikut dalam aksi pencurian tersebut.
“Ekonomi yang membuat mereka termotivasi. Ibu ini ibaratnya menikah dengan orang yang salah,” ungkapnya.