Bandung (ANTARA) - Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Barat pada triwulan II 2026 yang mencapai 5,73 persen secara tahunan (year on year/yoy), melampaui capaian pertumbuhan ekonomi nasional di angka 5,29 persen karena penguatan aktivitas domestik.
Kepala BPS Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati di Bandung, Jumat, menjelaskan akselerasi performa ekonomi daerah, yang membukukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku senilai Rp833,95 triliun dan atas dasar harga konstan Rp486,11 triliun tersebut, dipicu oleh lonjakan fantastis konsumsi pemerintah yang meroket hingga 40,24 persen secara tahunan dari sisi pengeluaran.
Dia mengungkapkan lompatan laju pertumbuhan ekonomi ini, menunjukkan penguatan aktivitas domestik yang solid dibanding periode triwulan II 2025 yang tumbuh 5,22 persen.
"Pertumbuhan ini merupakan akselerasi dibandingkan triwulan II 2025 yang sebesar 5,22 persen. Hal ini menunjukkan adanya penguatan aktivitas ekonomi dan arah pembangunan yang semakin solid," ujar Ari.
Dari sisi lapangan usaha, kata Ari, sektor industri pengolahan masih menjadi penopang utama perekonomian Jawa Barat dengan kontribusi 39,71 persen terhadap PDRB triwulan II 2026 serta menjadi penyumbang sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,96 persen.
Namun dari segi laju pertumbuhan, sektor administrasi pemerintahan melesat paling tinggi hingga 18,28 persen.
Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga memegang porsi terbesar struktur PDRB sebesar 65,07 persen dengan sumbangan pertumbuhan 3,03 persen, disusul Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 24,51 persen.
Capaian pertumbuhan 5,73 persen ini menempatkan Jawa Barat di posisi kedua tertinggi se-Pulau Jawa di bawah Daerah Istimewa Yogyakarta (5,75 persen), sekaligus menyumbang kontribusi terbesar ketiga terhadap perekonomian nasional yakni sebesar 12,86 persen di bawah DKI Jakarta dan Jawa Timur.
"Melalui rilis ini, BPS berharap data statistik yang dipublikasikan dapat menjadi dasar bagi pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menyusun kebijakan maupun mengambil keputusan berbasis data," tutur Ari.
Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.