Jakarta -
Bos SpaceX Elon Musk punya alasan mengapa dirinya memiliki banyak sekali anak. Salah satunya diungkap sang mantan pacar, dia butuh pasukan anak menghadapi perang saudara yang akan terjadi.
Dalam film dokumenter baru karya pembuat film kawakan Alex Gibney, mantan influencer gerakan MAGA Ashley St Clair mengungkapkan bahwa Musk pernah mengirim pesan teks yang menyatakan keinginannya untuk memiliki anak bersamanya. Alasannya, Musk merasa perlu memiliki banyak keturunan sebelum terjadinya perang saudara. Pasangan ini dikaruniai seorang putra pada tahun 2024 namun kini telah berpisah.
Mengutip The Guardian, Kamis (10/9/2026), St Clair mengatakan bahwa tim Musk sempat menawarkan pembayaran sekaligus sebesar USD 40 juta serta tunjangan bulanan USD 100.000 sebagai imbalan atas penandatanganan perjanjian kerahasiaan (non-disclosure agreement atau NDA). Akan tetapi tawaran tersebut ditarik kembali setelah ia menolak menandatanganinya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ditanya dalam acara penayangan perdana dokumenter tersebut di Festival Film Venesia mengenai apakah mantan pasangannya itu sekadar takut akan perang saudara atau justru secara aktif berupaya memicunya, St Clair menjawab.
"Apa pun itu, tindakannya di platform X tidak bisa diabaikan, karena ia sedang mengobarkan api konflik yang sebenarnya tidak ada di dunia nyata," katanya.
"Saya sungguh yakin bahwa dia sengaja memicu perpecahan yang bisa berakibat fatal jika tidak diatur atau diredam, atau jika kita tidak turut serta menghentikannya," imbuh mantan pendukung Trump yang sudah tobat itu.
Sejak mengakuisisi situs yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter pada tahun 2022, Musk telah menggunakan platform X untuk menyebarluaskan pandangan politik pribadinya. Pembuat film Gibney, yang karya-karya sebelumnya mengangkat topik seperti Enron, Vladimir Putin, dan militer AS, menyatakan obsesi Musk terhadap keruntuhan peradaban kemungkinan besar berakar pada masa kecilnya di Afrika Selatan.
"Dia menjalani masa kecil yang sangat sulit dan penuh trauma," kata Gibney di Venesia.
"Jika saya mencoba menganalisis situasi ini dari sudut pandang psikologis, bisa dikatakan bahwa dia kini melampiaskan trauma tersebut kepada kita semua," lanjutnya.
Film dokumenter berdurasi empat jam ini menyajikan gambaran menyeluruh tentang perjalanan Musk. Mulai sosok pengusaha teknologi muda di bidang perangkat lunak dan wirausahawan teknik yang menjual roket serta mobil listrik, hingga menjadi pengikut setia gerakan MAGA.
"Saya menemukan bahwa kisah Musk bukanlah sekadar kisah teknologi baru. Kisah ini ibarat anggur lama dalam botol baru. Ternyata, kisahnya adalah kisah tentang seorang penipu ulung dan manipulator harga saham. Kekayaan dan kekuasaannya bersumber dari praktik mendongkrak nilai saham secara artifisial," ujar Gibney. Film ini digarap memakan waktu hingga tiga tahun lamanya.
(ask/fay)
TAGS
LIHAT LAINNYA