Alita Jalin Kerja Sama dengan PLN ES, Teknologi Drone hingga Sensor Thermal Tingkatkan Pemantauan Aset Listrik Indonesia

Kerja sama ini tidak hanya berbicara mengenai penggunaan drone. Tahap awal kolaborasi diarahkan pada validasi teknologi atau proof of concept (PoC) untuk Surveillance Asset Management pada aset jaringan ketenagalistrikan.

Ringkasan

Alita dan PLN ES menjalin kemitraan jangka panjang untuk menggabungkan kompetensi engineering ketenagalistrikan dengan kemampuan teknologi informasi dan komunikasi (ICT), network engineering, system integration, infrastruktur, serta managed services.

Pada tahap awal, teknologi surveillance yang dikembangkan Alita akan divalidasi untuk mendukung pemantauan aset listrik. Teknologi tersebut menggunakan drone yang dilengkapi sensor LIDAR, thermal, dan visual.

Secara sederhana, mekanismenya dapat digambarkan sebagai berikut:

  • Drone digunakan sebagai instrumen pengumpulan data di lapangan.

  • Sensor visual menangkap informasi kondisi aset secara visual.

  • Sensor thermal membantu memperoleh informasi berbasis temperatur.

  • LIDAR (Light Detection and Ranging) mengumpulkan data menggunakan teknologi pengukuran berbasis cahaya.

  • Data yang terkumpul kemudian diolah dan diintegrasikan.

  • Informasi akhirnya ditampilkan pada Dashboard Operasional OASIS milik PLN ES.

Tujuannya bukan sekadar membuat proses inspeksi terlihat lebih modern. Data yang dikumpulkan diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi aset yang lebih akurat dan terkini sehingga pemantauan dan pemeliharaan dapat dilakukan secara lebih terencana.

President Director PT Alita Praya Mitra Joseph Lumban Gaol mengatakan kerja sama tersebut menjadi langkah untuk menguji penerapan teknologi dalam negeri terhadap kebutuhan nyata sektor ketenagalistrikan.

“Penandatanganan ini menjadi momentum penting bagi Alita untuk membangun kemitraan jangka panjang bersama PLN Electricity Services. Kami meyakini talenta dan teknologi dalam negeri memiliki kapabilitas untuk menjawab kebutuhan operasional sektor ketenagalistrikan,” ujar Joseph melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Senin, 31 Agustus 2026.

Menurut dia, proses kolaborasi dan validasi bersama diharapkan menghasilkan solusi yang manfaatnya dapat diukur.

“Melalui kolaborasi dan proses validasi bersama, kami berharap solusi yang dikembangkan dapat memberikan manfaat yang terukur serta nilai tambah bagi peningkatan layanan ketenagalistrikan di Indonesia,” katanya.

Bagaimana teknologi drone memantau aset listrik?

Penggunaan drone dalam konteks ini perlu dipahami lebih luas daripada sekadar kamera terbang.

Drone berfungsi sebagai platform yang membawa sejumlah sensor untuk mengumpulkan jenis data yang berbeda. Kombinasi sensor tersebut memungkinkan satu aktivitas pengumpulan data menghasilkan informasi yang lebih beragam mengenai kondisi aset.

Sensor visual, misalnya, memberikan informasi yang dapat diamati melalui citra. Sensor thermal memberikan dimensi informasi berdasarkan panas atau temperatur. Sementara itu, LIDAR dapat digunakan untuk memperoleh data spasial melalui pantulan cahaya.

Persoalannya kemudian bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan gambar aset, melainkan bagaimana berbagai data tersebut dapat diubah menjadi informasi yang berguna bagi operasional.

Di sinilah proses pengolahan dan integrasi data menjadi bagian penting dari kemitraan Alita dan PLN ES.

Baca Juga: IBS 2026 Soroti Peran Baterai di Luar Kendaraan Listrik

Baca Juga: IESR Nilai Insentif Motor Listrik Rp3 Juta Masih Terlalu Kecil

Mengapa drone bukan satu-satunya kunci?

Ada satu hal yang mudah terlewat ketika membahas teknologi drone untuk inspeksi infrastruktur: penerbangan drone sebenarnya baru merupakan tahap awal.

Nilai strategis teknologi justru muncul setelah data berhasil dikumpulkan.

Bayangkan sebuah drone selesai melakukan pemantauan dan menghasilkan data visual, thermal, serta LIDAR dalam jumlah besar. Data tersebut belum otomatis menjadi rekomendasi pemeliharaan. Data harus dikirim, diolah, diintegrasikan, kemudian disajikan dalam format yang dapat dipahami oleh pengambil keputusan.

Alurnya dapat dilihat seperti ini:

Drone → sensor → data lapangan → pengolahan data → integrasi sistem → dashboard → keputusan operasional.

Artinya, tantangan digitalisasi aset kelistrikan tidak berhenti pada kemampuan perangkat keras. Infrastruktur digital di belakangnya juga harus mampu menjaga availability, reliability, dan security data.

Semakin banyak sensor digunakan, semakin besar pula volume informasi yang harus ditangani. Jika data tidak tersedia ketika dibutuhkan, tidak dapat dipercaya, atau tidak terlindungi dengan baik, kecanggihan sensor tidak otomatis menghasilkan manfaat operasional.

Perspektif ini membuat kerja sama Alita dan PLN ES menarik. Teknologi drone hanya menjadi satu bagian dari ekosistem yang lebih besar.

Saat SCADA bertemu jaringan komunikasi data

Landasan kemitraan kedua perusahaan juga memperlihatkan perubahan yang lebih besar dalam teknologi kelistrikan.

PLN ES memiliki kompetensi engineering ketenagalistrikan, termasuk dalam domain Operational Technology (OT) dan Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA). Di sisi lain, Alita membawa kapabilitas pada jaringan komunikasi data dan integrasi sistem.

Pertemuan kedua kompetensi tersebut penting karena aset kelistrikan modern membutuhkan lebih dari sekadar perangkat fisik. Sistem yang mengawasi aset juga harus dapat berkomunikasi, bertukar data, dan menyajikan informasi yang dapat digunakan oleh operator.

Dengan demikian, digitalisasi sektor ketenagalistrikan dapat dilihat sebagai pertemuan antara engineering fisik dan engineering digital.

Kabel, tiang, jaringan, dan perangkat kelistrikan tetap menjadi fondasi. Namun, lapisan data dan konektivitas semakin menentukan seberapa cepat kondisi aset dapat diketahui dan bagaimana informasi tersebut digunakan.

Seperti apa manfaatnya di lapangan?

Untuk memahami potensinya, bayangkan sebuah aset jaringan listrik perlu diperiksa secara berkala.

Dalam pendekatan yang lebih konvensional, pemeriksaan dapat melibatkan aktivitas lapangan untuk memperoleh informasi kondisi aset. Setiap lokasi memiliki karakteristik dan tantangannya sendiri.

Dengan pendekatan surveillance berbasis drone, proses pengumpulan informasi dapat dilakukan menggunakan perangkat yang membawa beberapa sensor sekaligus. Data tersebut kemudian dapat diproses dan ditampilkan melalui sistem yang terintegrasi.

Secara konseptual, prosesnya menjadi:

1. Drone mengumpulkan data

Drone diterbangkan untuk memperoleh informasi dari area atau aset yang menjadi objek pemantauan.

2. Berbagai sensor bekerja

Sensor visual, thermal, dan LIDAR menghasilkan jenis informasi yang berbeda.

3. Data dikumpulkan dalam jumlah besar

Seluruh hasil pengamatan menjadi bahan untuk tahap pengolahan.

4. Data diintegrasikan

Informasi tidak dibiarkan sebagai kumpulan gambar atau data terpisah, tetapi diproses agar dapat digunakan dalam sistem operasional.

5. Pengambil keputusan memperoleh informasi

Data yang telah diolah ditampilkan melalui Dashboard Operasional OASIS untuk membantu memberikan gambaran kondisi aset.

Penting dicatat, teknologi tersebut tidak berarti seluruh pemeriksaan manual otomatis menjadi tidak diperlukan. Berdasarkan narasi kerja sama ini, tahap yang sedang dilakukan adalah validasi teknologi, sehingga kesesuaian solusi dengan kebutuhan operasional perlu diuji terlebih dahulu.

Apa dampaknya bagi infrastruktur listrik Indonesia?

Manfaat paling langsung dari pendekatan ini adalah peluang mempercepat proses pengumpulan informasi sekaligus meminimalkan risiko pekerjaan tertentu di lapangan.

Namun, dampaknya dapat lebih besar jika teknologi tersebut mampu berkembang menjadi sistem pemantauan aset yang benar-benar terintegrasi.

Ada setidaknya tiga hal yang menjadi penting.

Pertama, visibilitas aset. Operator membutuhkan informasi mengenai kondisi aset untuk menentukan tindakan yang tepat.

Kedua, efisiensi pemeliharaan. Data yang lebih terstruktur dapat membantu pemeliharaan dilakukan secara lebih terencana, meskipun tingkat manfaatnya tetap bergantung pada hasil implementasi dan validasi.

Ketiga, kualitas pengambilan keputusan. Data menjadi bernilai ketika dapat diterjemahkan menjadi informasi yang relevan bagi kebutuhan operasional.

Di sisi lain, digitalisasi juga membawa konsekuensi. Ketergantungan yang lebih besar terhadap data berarti kebutuhan terhadap keamanan sistem, konektivitas yang andal, dan tata kelola data juga semakin tinggi.

Dengan kata lain, semakin pintar sistem pemantauan aset listrik, semakin besar pula tuntutan terhadap reliability dan security di belakangnya.

Mengapa teknologi dalam negeri menjadi bagian penting?

Kerja sama Alita dan PLN ES juga membawa dimensi lain, yakni peluang memperkuat peran teknologi dan talenta nasional di sektor strategis.

Joseph menilai Indonesia memiliki talenta dan teknologi yang dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan operasional ketenagalistrikan. Pernyataan tersebut sejalan dengan pandangan Direktur Utama PLN ES Susiana Mutia mengenai pentingnya sinergi antara kompetensi kelistrikan dan teknologi nasional.

“Kemitraan dengan Alita merupakan langkah strategis untuk memperkuat sinergi antara kapabilitas PLN Electricity Services di sektor ketenagalistrikan dengan kompetensi teknologi dan engineering nasional,” kata Susiana.

Dia menilai kebutuhan ketenagalistrikan pada masa mendatang tidak hanya berkaitan dengan engineering.

“Kebutuhan ketenagalistrikan ke depan tidak hanya menuntut keandalan dari sisi engineering, tetapi juga dukungan teknologi, infrastruktur, dan kemampuan integrasi sistem,” ujarnya.

Bagi industri teknologi nasional, sektor kelistrikan menjadi ruang yang strategis sekaligus memiliki tuntutan tinggi. Solusi yang digunakan untuk mendukung infrastruktur kritikal harus mampu menunjukkan manfaat, keandalan, keamanan, dan kepatuhan terhadap tata kelola yang berlaku.

Alita dan PLN ES mulai dari proof of concept

Satu aspek penting dari kemitraan ini adalah keputusan untuk memulai dengan proof of concept. Tahap tersebut membuat kerja sama tidak berhenti pada klaim bahwa suatu teknologi terlihat canggih.

Teknologi perlu diuji terhadap kebutuhan operasional sebenarnya.

Susiana bahkan menegaskan harapannya agar kerja sama tersebut tidak berhenti pada seremoni.

“Kami berharap MoU ini tidak berhenti pada seremoni penandatanganan hari ini, melainkan menjadi pintu masuk bagi komunikasi yang lebih konstruktif dan produktif ke depannya,” kata Susiana.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan kolaborasi pada akhirnya bukan sekadar penandatanganan dokumen, melainkan apa yang dapat dibuktikan setelah teknologi diuji.

Apakah data yang dihasilkan benar-benar berguna? Apakah sistem dapat diintegrasikan? Apakah prosesnya dapat memberikan manfaat yang terukur? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi lebih penting daripada sekadar seberapa canggih perangkat yang digunakan.

Masa depan pemantauan aset listrik ada pada integrasi

Kemitraan Alita dan PLN ES menunjukkan bahwa teknologi drone dapat menjadi bagian dari perubahan cara aset kelistrikan dipantau. Namun, drone bukanlah keseluruhan cerita.

Perubahan yang lebih penting justru berada pada perjalanan data: dari sensor di lapangan, masuk ke sistem pengolahan, kemudian terhubung dengan dashboard operasional dan akhirnya digunakan dalam pengambilan keputusan.

Pada titik tersebut, teknologi tidak lagi sekadar menjadi alat untuk melihat aset dari udara. Teknologi menjadi lapisan informasi yang membantu manusia memahami kondisi infrastruktur secara lebih cepat dan terukur.

Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut benar-benar mampu menjawab kebutuhan operasional. Sebab, dalam sektor ketenagalistrikan, teknologi terbaik bukan selalu yang paling kompleks, melainkan yang dapat bekerja secara aman, andal, terintegrasi, dan memberikan manfaat nyata.

Pantau terus perkembangan teknologi dan inovasi sektor ketenagalistrikan Indonesia untuk melihat bagaimana digitalisasi mulai mengubah cara infrastruktur penting dikelola.

Baca Juga: PSEL Bekasi Olah 500 Ribu Ton Sampah Jadi Listrik per Tahun

Baca Juga: Dari Layar Interaktif hingga Becak Listrik, Peserta Muktamar NU Apresiasi Program Bantuan Prabowo

FAQ

Apa tujuan kerja sama Alita dan PLN ES?

Alita dan PLN ES menjalin kemitraan strategis jangka panjang untuk menggabungkan kompetensi engineering ketenagalistrikan dengan teknologi jaringan, ICT, integrasi sistem, dan infrastruktur. Tahap awalnya berupa proof of concept untuk Surveillance Asset Management pada aset jaringan ketenagalistrikan.

Teknologi apa yang digunakan untuk pemantauan aset listrik?

Teknologi yang digunakan dalam tahap validasi mencakup drone yang dilengkapi sensor LIDAR, thermal, dan visual. Data dari berbagai sensor tersebut kemudian diolah dan diintegrasikan sebelum ditampilkan melalui Dashboard Operasional OASIS milik PLN ES.

Apa fungsi sensor thermal dalam pemantauan aset listrik?

Sensor thermal mengumpulkan informasi berbasis temperatur dari objek yang diamati. Dalam sistem surveillance aset, informasi tersebut dapat menjadi salah satu jenis data yang digunakan untuk memahami kondisi aset bersama data visual dan LIDAR.

Apa fungsi LIDAR dalam teknologi pemantauan aset?

LIDAR atau Light Detection and Ranging merupakan teknologi yang menggunakan cahaya untuk memperoleh informasi mengenai objek dan kondisi spasial. Dalam kolaborasi Alita dan PLN ES, LIDAR menjadi salah satu sensor yang dipasang pada drone untuk mengumpulkan data aset.

Apa itu Surveillance Asset Management?

Surveillance Asset Management dalam konteks kerja sama Alita dan PLN ES merupakan pendekatan pemantauan aset ketenagalistrikan menggunakan teknologi surveillance untuk mengumpulkan dan mengolah informasi kondisi aset. Tahap awal penerapannya dilakukan melalui validasi teknologi atau proof of concept.

Mengapa data penting dalam pemeliharaan aset listrik?

Data membantu memberikan gambaran kondisi aset yang lebih terkini kepada pengambil keputusan. Dalam pendekatan Alita dan PLN ES, data dari drone dan berbagai sensor diolah serta diintegrasikan sebelum ditampilkan melalui dashboard operasional sehingga dapat mendukung pemantauan dan pemeliharaan aset yang lebih terencana.

Apakah drone akan menggantikan pemeriksaan manual aset listrik?

Belum dapat disimpulkan demikian. Kerja sama Alita dan PLN ES saat ini memasuki tahap validasi teknologi, sehingga drone lebih tepat dipandang sebagai teknologi yang berpotensi mendukung dan mempercepat proses pengumpulan informasi aset serta mengurangi risiko pada pekerjaan tertentu, bukan otomatis menggantikan seluruh pemeriksaan lapangan.