Apa Itu Tren 'Performative Male' yang Viral di Kalangan Gen Z?

Daftar Isi

Jakarta -

Di media sosial, khususnya TikTok, muncul istilah yang ramai diperbincangkan, yaitu "performative male". Tak sedikit yang menilai penampilan tersebut merupakan bentuk pencitraan daripada cerminan kepribadian yang sebenarnya.

Sebenarnya, apa itu performative male? Apakah hal ini merupakan gangguan psikologis?

Istilah performative male merujuk pada laki-laki yang dianggap sengaja mengadopsi sifat, hobi, dan gaya berpakaian yang kerap diasosiasikan dengan perempuan atau budaya "soft boy" di media sosial. Dikutip dari laman Parents, hal tersebut ditampilkan untuk membangun citra sebagai sosok yang sensitif dan peka secara emosional.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Beberapa contoh performative male adalah suka minum matcha, menyukai musik K-pop, menggunakan tote bag, suka membaca buku-buku bertema perempuan, atau hal-hal lain yang sering kali disukai oleh perempuan.

Namun, seseorang tidak akan disebut performative male jika memang benar-benar menyukai hal tersebut. Julukan ini lebih ditujukan pada remaja yang berpura-pura atau memaksakan diri tampil dengan citra tertentu demi menarik perhatian perempuan.

Istilah ini umumnya digunakan sebagai bahan candaan untuk menyindir laki-laki yang rela mengubah seluruh penampilan dan kepribadiannya agar terlihat menarik di mata perempuan, atau mereka yang dinilai terlalu bergantung pada tren media sosial hingga kesulitan membentuk identitas diri.

Penelitian tentang media sosial menunjukkan bahwa generasi muda sangat menghargai autentisitas sebagai dasar kepercayaan. Jika milenial dikenal dengan citra diri yang dikurasi melalui foto berfilter, Gen Z justru lebih mengutamakan kesan apa adanya dan spontan.

Berbagai studi mengenai budaya TikTok menemukan bahwa banyak orang lebih senang membuat dan mengonsumsi konten yang jujur, emosional, dan tanpa banyak polesan. Dalam konteks ini, sosok performative male kerap dianggap terlalu berusaha terlihat tulus. Kebiasaan seperti minum matcha atau menggunakan tote bag dipandang hanya sebagai gaya hidup, bukan cerminan nilai atau karakter seseorang.

Apakah Performative Male adalah Gangguan Psikologis?

Psikolog Klinis Ghina Sakiah Safari mengatakan bahwa performative male tidak termasuk gangguan psikologis, melainkan kecenderungan sosial. Hal ini sering muncul sebagai strategi untuk menarik perhatian atau menyesuaikan diri di media sosial dan budaya populer.

"Hal itu dilakukan memang bertujuan memperoleh validasi atau status melalui persepsi orang lain. Strategi ini sendiri secara budaya bukan hal yang abnormal," kata Ghina ketika dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.

Menurutnya, sejak dulu manusia memang cenderung menyesuaikan diri agar dapat diterima. Namun, kini bentuknya semakin terlihat karena adanya media sosial.

Terkait perilaku performative male, tekanan sosial memainkan peran yang besar. Tak hanya itu, fenomena masking atau social camouflaging, menurut Ghina, juga relevan. Hal ini terjadi ketika seseorang menyembunyikan sisi aslinya demi memenuhi ekspektasi sosial.

"Bisa secara sadar atau tidak sadar, sebagai bentuk perlindungan identitas sosial dan memenuhi kebutuhan untuk diterima yang mereka miliki," tandasnya.

(elk/kna)