Art Borneo refleksikan ekologi lewat seni bersama - ANTARA News Kalimantan Barat

Pontianak (ANTARA) - Art Borneo 2026 hadir di Pontianak sebagai ruang refleksi persoalan ekologi melalui seni dengan mempertemukan seniman dan komunitas dari Indonesia, Malaysia, serta Brunei Darussalam.

"Art Borneo 2026 hadir ketika masyarakat Kalimantan Barat menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, kabut asap hingga perubahan bentang alam yang memberikan tekanan terhadap ekosistem," kata Kurator Art Borneo 2026 M. Faozi Yunanda di Pontianak, Minggu.

Dia mengatakan persoalan ekologi tidak dapat dipisahkan dari manusia, ingatan masyarakat serta identitas yang terbentuk melalui hubungan dengan ruang hidup.

Mengusung tema "Ekologi Sosial, Memori, dan Identitas" dengan tajuk "Khalayak: Arketipal Primordial", kegiatan tersebut mengajak masyarakat menelusuri kembali hubungan manusia dengan lingkungan, ingatan, pengalaman dan kebudayaan.

"Ketika kita berbicara tentang ekologi, kita sebenarnya juga sedang berbicara tentang manusia, tentang bagaimana sebuah masyarakat mengingat ruang hidupnya dan bagaimana identitas terbentuk dari hubungan tersebut," katanya.

Menurut dia, kerusakan ekologis tidak hanya mengubah lanskap, tetapi juga berpotensi menghilangkan ingatan serta pengetahuan yang hidup dan diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.

Melalui tajuk "Khalayak: Arketipal Primordial", Art Borneo menelusuri hubungan manusia dengan tanah, air, hutan, leluhur dan ruang sosial sebagai bagian dari pengetahuan yang tetap hidup dalam kebudayaan masyarakat Borneo.

Rangkaian Art Borneo 2026 sebelumnya diawali inkubasi daring pada 23-31 Juli, kemudian dilanjutkan program residensi di Kabupaten Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu pada 8-20 Agustus 2026.

Program tersebut mempertemukan seniman dari berbagai daerah di Indonesia, Kalimantan Barat, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk melakukan riset, bertukar pengalaman serta berinteraksi langsung dengan masyarakat dan pengetahuan lokal.

Direktur Art Borneo Annisa Fitri Yusuf mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar perayaan seni, melainkan ruang untuk melihat kembali persoalan lingkungan sebagai tantangan bersama masyarakat Borneo.

"Kita berada di tengah kondisi ekologis yang secara langsung maupun tidak langsung kita rasakan bersama. Karena itu, pameran ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak, mengingat, dan saling menguatkan," ujarnya.

Art Borneo 2026 yang diselenggarakan Kolektif Emehdeyeh dengan dukungan Kementerian Kebudayaan RI, Festival Lestari dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalbar diharapkan memperkuat jejaring seni sekaligus membuka ruang dialog mengenai persoalan sosial dan ekologis Borneo.

Pewarta: Rendra Oxtora
Editor : Andilala

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.