AS nilai RI berpeluang dapat skema investasi seperti LEC Filipina

Jakarta (ANTARA) - Amerika Serikat menilai Indonesia berpeluang memperoleh skema investasi infrastruktur seperti Luzon Economic Corridor (LEC) di Filipina melalui perluasan kerja sama Washington di Asia Tenggara bersama USTDA dan MCC.

Departemen Luar Negeri AS mengadakan taklimat media terkait LEC yang dipantau secara daring dari Jakarta, Kamis, bersama perwakilan AS yaitu Duta Besar Heather Variava, Kepala Badan Perdagangan dan Pembangunan AS (USTDA) Thomas Hardy, dan Plt. Kepala Staf Millennium Challenge Corporation (MCC) Dan Petrie.

Variava mengatakan Washington mendukung berbagai koridor ekonomi di sejumlah kawasan, termasuk Afrika dan Asia Tengah, dan tidak menutup kemungkinan mengembangkan skema serupa di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Dia menekankan bahwa kunci keberhasilan skema seperti LEC adalah kemitraan tiga pilar, yaitu pemerintah negara tujuan, pemerintah AS, dan sektor swasta, yang menurutnya juga berlaku bagi peluang kerja sama baru di Indonesia.

“Jadi, menyatukan ketiga pilar tersebut adalah kunci keberhasilannya. Kami juga senantiasa terbuka untuk membahas peluang-peluang baru bagi kesepakatan komersial lebih lanjut,” kata Variava.

Dan Petrie dari MCC mengungkapkan bahwa lembaga tersebut sedang menjalankan program compact di Indonesia yang berfokus pada pembiayaan infrastruktur energi, sejalan dengan proyek serupa yang sedang berjalan di sektor energi di Filipina.

Menurut Petrie, fokus MCC tidak sebatas transaksi individual, melainkan memperbaiki lingkungan regulasi dan operasional suatu negara agar investasi swasta tumbuh lebih luas, sekaligus menjadi fondasi bagi masuknya investasi lanjutan dari lembaga AS lain.

Sementara itu, kepala USTDA Thomas Hardy, menyebut lembaganya memiliki rekam jejak panjang bekerja sama dengan Indonesia di sektor energi, infrastruktur digital, dan mineral kritis, yang didukung oleh keterlibatan aktif pemerintah dan sektor swasta kedua negara.

“Sektor swasta yang aktif dan dinamis inilah yang juga menarik minat perusahaan-perusahaan Amerika untuk meningkatkan kegiatan mereka di berbagai negara di kawasan Indo-Pacific dan Asia Tenggara. Kami telah lama menghargai kemitraan yang terjalin dengan pemerintah maupun sektor swasta di Indonesia,” kata Hardy.

Forum Investasi Luzon Economic Corridor (LEC) perdana berlangsung pada 10-11 September 2026 di Manila, Filipina, dan mempertemukan sekitar 600 investor internasional, pemimpin industri, pengembang proyek, dan pejabat pemerintah dari berbagai negara mitra.

Forum tersebut menawarkan kerja sama proyek Ekosistem Gas Alam Subic-Clark senilai 4,6 miliar dolar AS, Bandara Internasional Sangley senilai 4,1 miliar dolar AS, serta operasi dan pemeliharaan Metro Manila Subway senilai 3 miliar dolar AS dan North-South Commuter Rail senilai empat miliar dolar AS.

LEC dibentuk pada 2024 oleh Filipina, AS, dan Jepang. Pada Mei 2026, delapan negara, yaitu Australia, Kanada, Denmark, Prancis, Italia, Korea Selatan, Swedia, dan Inggris, resmi bergabung sebagai negara mitra, dan pada September 2026, Spanyol dan Uni Eropa juga resmi bergabung.

Baca juga: AS bantu Indonesia dukung rancangan infrastruktur gas

Baca juga: Luhut: investasi DFC beri keyakinan AS investasi di Indonesia

Pewarta: Cindy Frishanti Octavia
Editor: Rahmad Nasution
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.