Canberra (ANTARA) - Pemerintah Australia pada Jumat (28/8) mengatakan akan mengevakuasi para ilmuwan dari sebuah pulau sub-Antarktika karena adanya "risiko psikososial" dari potensi merebaknya wabah flu burung H5N1.
Departemen Perubahan Iklim, Energi, Lingkungan, dan Air (Department of Climate Change, Energy, the Environment and Water/DCCEEW) mengatakan pihaknya akan menarik sementara staf dari stasiun penelitian Program Antarktika Australia di Pulau Macquarie, wilayah terpencil Australia yang terletak sekitar 2.000 km sebelah tenggara daratan utama.
DCCEEW mengatakan bahwa galur flu burung H5N1 yang sangat patogenik itu belum terdeteksi di pulau tersebut, tetapi para pakar memperkirakan peristiwa kematian signifikan kemungkinan besar akan terjadi pada musim pembiakan mendatang.
Pulau tersebut, yang dimasukkan ke dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO karena nilai universalnya yang luar biasa pada 1997, dihuni hingga 100.000 ekor anjing laut dan jutaan burung laut, termasuk lebih dari 850.000 pasangan penguin royal endemik yang berkembang biak, pada berbagai periode sepanjang tahun.
"Ini langkah yang tidak biasa, tetapi merupakan tindakan yang paling tepat berdasarkan penilaian kami terhadap risiko dan kondisi operasional," kata Wakil Sekretaris DCCEEW Sean Sullivan dalam sebuah pernyataan.
"Meskipun risiko flu burung H5 bagi manusia dianggap rendah, kita tidak dapat mengabaikan risiko psikososial akibat tinggal di dekat sejumlah besar hewan yang berpotensi terinfeksi."
Departemen tersebut mengatakan bahwa kapal pasokan dan penelitian utama Program Antarktika Australia, RSV Nuyina, akan melakukan perjalanan ke pulau itu pada akhir September atau awal Oktober untuk menjemput 24 ilmuwan, pekerja terampil, dan staf pendukung, serta mengangkut kargo penting.
Sejumlah opsi untuk memantau situasi di pulau itu sedang dipertimbangkan dan Sullivan mengatakan Australia tetap berkomitmen untuk mempertahankan kehadiran jangka panjang di Pulau Macquarie.
Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.