Bengkulu (ANTARA) - Tidur lebih lama atau sering disebut dengan balas dendam tidur pada akhir pekan sering menjadi pilihan untuk mengejar waktu istirahat yang berkurang selama hari kerja, tetapi benarkah cara tersebut dapat menggantikan waktu tidur yang hilang?
Kesibukan kuliah, pekerjaan, mengerjakan tugas, hingga kebiasaan menggunakan ponsel pada malam hari dapat membuat waktu tidur berkurang. Jika berlangsung terus berulang, kekurangan tidur dapat membuat tubuh lebih mudah lelah dan mengganggu aktivitas pada siang hari.
Ketika akhir pekan tiba, tidur hingga lebih siang pun menjadi pilihan. Bagi sebagian orang, pada Sabtu atau Minggu dianggap sebagai kesempatan untuk mengejar waktu istirahat yang hilang untuk mengembalikan tenaga setelah beberapa hari menjalani aktivitas yang padat.
Baca juga: Tanda tubuh lelah yang sering diabaikan
Kebiasaan tidur lebih lama pada akhir pekan dikenal sebagai weekend catch-up sleep. Tidur tambahan tersebut memang dapat memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat setelah beberapa hari memperoleh waktu tidur yang lebih sedikit.
Kekurangan tidur yang terjadi berulang kali dikenal sebagai sleep debt atau utang tidur. Istilah tersebut menggambarkan waktu tidur yang tidak terpenuhi sesuai kebutuhan tubuh.
Sebagai contoh, seseorang yang membutuhkan delapan jam tidur dalam satu malam tetapi hanya tidur selama enam jam berarti kehilangan sekitar dua jam waktu tidur. Jika kondisi tersebut kembali terjadi pada malam berikutnya, kekurangannya akan terus bertambah.
Lalu, apakah tidur lebih lama pada akhir pekan dapat menggantikan waktu tidur yang hilang selama hari kerja?
Tidur tambahan ternyata tetap dapat membantu tubuh melakukan pemulihan dalam jangka pendek. Namun, bukan berarti “balas dendam tidur” di akhir pekan dapat menebus kekurangan tidur yang berlangsung dalam jangka waktu lama.
Tinjauan penelitian yang diterbitkan pada 2025 menyebutkan weekend catch-up sleep dapat memberikan pemulihan jangka pendek, termasuk membantu mengurangi kelelahan serta memperbaiki suasana hati dan fungsi kognitif.
Artinya, tidur lebih lama pada akhir pekan memang dapat membantu tubuh merasa lebih baik setelah beberapa hari mengalami kekurangan tidur. Namun, tidur tambahan tersebut bukan berarti seseorang bisa terus-menerus kekurangan waktu tidur.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tidur bukan hanya tentang pemenuhan durasinya, tetapi juga menjaga keteraturan jadwal tidur dan bangun.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan orang dewasa tidur setidaknya tujuh jam setiap malam. Sementara itu, remaja berusia 13 hingga 18 tahun membutuhkan sekitar delapan hingga 10 jam.
Kebutuhan tidur setiap orang memang tidak selalu sama karena dapat dipengaruhi usia dan kondisi masing-masing. Namun, memenuhi waktu tidur secara teratur tetap penting untuk menjaga kondisi tubuh dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.
Selain memperhatikan durasi tidur, kebiasaan sebelum tidur juga dapat membantu menjaga kualitas istirahat. Mengurangi aktivitas yang terlalu merangsang menjelang tidur, membuat suasana kamar lebih nyaman, serta memperhatikan konsumsi kafein menjadi beberapa hal yang dapat diperhatikan.
CDC juga menyarankan pencatatan kebiasaan tidur, mulai dari waktu tidur dan bangun, tidur siang, aktivitas fisik, hingga konsumsi minuman berkafein. Catatan tersebut dapat membantu seseorang melihat pola tidur dan mengetahui apakah waktu istirahatnya sudah mencukupi.
Pewarta: Tania R
Uploader : Musriadi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.