Badung (ANTARA) - Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, menggunakan tiga titik di kawasan bandara untuk latihan penanggulangan keadaan darurat Airport Emergency Exercise (AEE) skala penuh, menguji dokumen rencana penanggulangan darurat, keamanan, serta mitigasi bencana bandar udara.
“Ada tiga titik, yang pertama untuk di dalam gedung, itu berada di tengah keramaian terminal internasional dan terminal domestik, yaitu ada di salah satu hotel, kita simulasikan terjadi kebakaran dan itu akan berdampak ke mana-mana,” kata General Manager Bandara I Gusti Ngurah Rai Nugroho Jati.
Nugroho di Kabupaten Badung, Rabu, menjelaskan selain terminal, latihan skala penuh yang diikuti 860 personel lintas instansi ini juga mengambil titik General Aviation Terminal.
“Ini untuk private jet ketika ada ancaman keamanan penerbangan di sana, dan yang ketiga ada di dalam kawasan di sisi utara landasan, kita simulasikan terjadi kecelakaan pesawat sehingga mengalami kebakaran yang harus kita tangani dari sisi operasi pemadaman maupun operasi pertolongan," ujarnya.
Nugroho menjelaskan kegiatan wajib per dua tahun sekali ini merupakan latihan penanggulangan keadaan darurat pertama setelah COVID-19 yang menggabungkan latihan bersama dalam satu hari.
Rangkaian kegiatan AEE sendiri dimulai dengan Table Top Exercise di Ruang Chandra Sasmita Gedung Cendrawasih.
Kemudian, sore harinya dilanjutkan dengan latihan penanganan kebakaran domestik (domestic fire exercise) dan latihan pengamanan bandar udara (airport security exercise).
Puncaknya pada malam hari digelar latihan penanganan kecelakaan pesawat (aircraft accident exercise) guna menguji kesiapan operasi malam pada bandar udara yang beroperasi selama 24 jam.
Nugroho menyebut pelibatan total 860 peserta untuk AEE 2026 berasal dari Airport Emergency Committee dan Airport Security Committee, baik internal maupun eksternal, mulai dari TNI-Polri, maskapai, ground handling, instansi keimigrasian, bea cukai, kantor karantina (kesehatan maupun Indonesia), basarnas, rumah sakit, pemadam kebakaran daerah, hingga AirNav Indonesia.
Di luar potensi keadaan darurat tadi, Bandara I Gusti Ngurah Rai memetakan potensi bencana meliputi aktivitas Gunung Agung dan sekitarnya, tsunami, serta paparan abu vulkanik, di luar aspek kondisi darurat pandemi, namun tidak diuji pada hari ini.
Pengelola Bandara I Gusti Ngurah Rai memastikan, selama latihan penanggulangan keadaan darurat berlangsung operasional penerbangan tidak terganggu.
“Kami sudah memberitahu melalui notice to airmen (NOTAM) bahwa ada kegiatan di sisi udara yang akan mungkin berdampak kepada adanya delay, sehingga bisa diantisipasi dari awal, namun untuk operasional bandar udara tidak ada penutupan, tidak ada pengurangan, semua tetap berjalan,” tuturnya.
Komandan Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) I Gusti Ngurah Rai Kolonel Pnb David Dwi Martin Warginanto menambahkan pihaknya sendiri siap berkontribusi langsung dalam komite keselamatan bandar udara tidak hanya di momentum AEE.
"Kami juga punya kemampuan di situ untuk penanganan kecelakaan pesawat udara, kami terlibat diaspek pengamanan dan penanganan keselamatan," ujarnya.
Dari unsur TNI AU sendiri, sekitar 30 personel yang terbagi dalam dua tim dikerahkan untuk mendukung pengamanan terbuka, tertutup, serta fasilitas base rescue.
Seluruh rangkaian latihan penanggulangan keadaan darurat skala penuh ini nantinya akan dievaluasi langsung oleh tim penilai dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Indonesia.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Ardi Irawan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.