Bantu Tekan Emisi Ketenagalistrikan, Operasional PLTP Gunung Ungaran Tak Butuh Air Jumlah Besar

Rabu, 30 September 2026 - 21:42 WIB

Jakarta, VIVA – Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Ungaran disebut-sebut berpotensi untuk membantu menekan emisi di sektor ketenagalistrikan.

Baca Juga

Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip), Yoga Aribowo mengatakan, emisi CO2 PLTP hanya sekitar 100 gram per kWh, atau jauh di bawah PLTU batu bara yang mencapai sekitar 900 gram per kWh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Semakin banyak porsi PLTP menggantikan PLTU, hal itu akan berkontribusi positif bagi kualitas lingkungan baik udara, laut, maupun air,” kata Yoga dalam keterangannya, Rabu, 30 September 2026.

Baca Juga

Ilustrasi emisi karbon.

Photo :

  • Pixabay

Dengan rencana kapasitas sekitar 55 megawatt (MW), Yoga menilai PLTP Gunung Ungaran dapat menambah pasokan listrik berbasis panas bumi sekaligus meningkatkan porsi energi dengan emisi lebih rendah dalam sistem ketenagalistrikan. 

Baca Juga

“Pengembangannya tetap perlu dilakukan bertahap dan berbasis kajian agar pengelolaan lingkungan dan kepentingan masyarakat tetap menjadi bagian dari perencanaan proyek,” ujarnya.

Selain itu, PLTP Gunung Ungaran menurutnya juga tidak membutuhkan air dalam jumlah besar dalam pengoperasiannya, selain untuk kebutuhan domestik dan operasional fasilitas. Yoga mengatakan, setelah memproduksi listrik, PLTP tidak lagi membutuhkan air dalam jumlah yang besar.

"Paling hanya untuk domestik kantor atau mess, dan fasilitas lain. Itu kebutuhan airnya tidak akan signifikan,” kata Yoga 

Menurutnya, kebutuhan air dalam pengembangan panas bumi merupakan bagian dari kebutuhan teknis yang telah diperhitungkan operator. Pada tahap pengeboran, kebutuhan air dapat mencapai sekitar 100–200 meter kubik per hari, bergantung pada kedalaman dan kondisi pengeboran.

Yoga mengatakan, sumber air dapat direncanakan dari sumber yang tidak digunakan masyarakat termasuk akuifer dalam, atau melalui penampungan terlebih dahulu. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga kualitas dan kuantitas sumber air eksisting.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Bisa dengan mengambil air dari akuifer dalam, ratusan meter, yang tidak digunakan warga, atau terlebih dahulu membuat pond,” kata Yoga. 

Dia menjelaskan, sekitar 95 persen fluida yang diproduksikan dari reservoir panas bumi berupa air. Fluida tersebut mengandung sejumlah mineral terlarut seperti natrium, kalium, magnesium, klorida, sulfat dan bikarbonat, serta unsur seperti litium dan boron dalam konsentrasi lebih rendah.

Halaman Selanjutnya

"Fluida panas bumi dapat dikelola melalui treatment dan reinjeksi, sehingga tidak memengaruhi kualitas air permukaan maupun air dekat permukaan. Secara hidrologis, reservoir panas bumi dan akuifer air tanah juga merupakan sistem yang berbeda," ujarnya.