Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan fasilitas distribusi cabai rawit dari daerah surplus menuju wilayah defisit guna menekan gejolak harga dan menjaga pasokan nasional.
"Fluktuasi harga cabai rawit segera diatasi pemerintah dengan mengupayakan mobilisasi stok dari daerah yang surplus ke daerah defisit," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa dikonfirmasi di Jakarta, Minggu.
Dia menyampaikan salah satu yang akan dilaksanakan adalah program Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Upaya itu dilaksanakan pemerintah secara kolaboratif bersama para Champion Cabai dan cukup ampuh menekan harga cabai.
Ketut menuturkan upaya mengatasi fluktuasi harga cabai perlu terus diterapkan. Bapanas dan Kementerian Pertanian akan menjalin koneksi agar FDP dapat dijalankan guna menyasar ke daerah yang sedang mengalami dinamika harga yang fluktuatif.
Dia mencontohkan untuk komoditas cabai rawit, pihaknya mendapatkan informasi di Kediri, Jawa Timur, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera direspons oleh pemerintah, dalam hal ini Bapanas.
"Karena itu, kami ingin berkoneksi kembali dengan teman-teman Kementan untuk melihat wilayah mana yang dapat kita dukung melalui FDP," kata Ketut.
Ia menegaskan pelibatan petani Champion Cabai yang dibina Kementan memegang andil penting dalam upaya penstabilan harga cabai rawit.
Berkat kolaborasi erat, kata dia, pasokan cabai rawit dengan harga yang terjangkau yang kemudian diguyur ke daerah yang berfluktuasi dapat menjadi faktor penekan harga.
"Misalkan di daerah di luar Jawa yang harganya relatif masih terjangkau, sehingga kita bisa FDP ke wilayah-wilayah yang harganya tinggi. Kita undang kembali para petani champion kita untuk membantu distribusikan ke wilayah-wilayah yang harganya relatif tinggi," ujar Ketut.
Adapun dalam catatan Bapanas, FDP cabai rawit yang telah terlaksana pada triwulan pertama tahun 2026 totalnya mencapai 5.590 kilogram (kg). Data itu terdiri dari mobilisasi stok cabai rawit dari Enrekang, Sulawesi Selatan, ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta sebesar 3.150 kg.
Kemudian ke Lombok Tengah serta Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, masing-masing 1.140 kg dan 1.300 kg.
Implikasi positifnya pada April 2026 terjadi penurunan inflasi, termasuk pada komponen harga bergejolak (volatile food) atau inflasi pangan.
Sementara itu, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Kementan Sudi Mardianto memastikan produksi cabai rawit nasional tetap mencukupi hingga akhir tahun sehingga pasokan diyakini mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.
Sudi menyampaikan produksi cabai rawit nasional pada September diperkirakan mencapai sekitar 119 ribu ton sehingga menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas pasokan selama beberapa bulan mendatang.
Di Jawa Timur, kata Sudi, tanaman cabai rawit yang siap dipanen di Banyuwangi telah mencapai sekitar 1.486 hektare sehingga mendukung peningkatan produksi secara bertahap pada musim panen.
Selain Banyuwangi, Kabupaten Sampang juga memiliki tanaman cabai rawit seluas sekitar 1.691 hektare dengan produksi yang mulai meningkat hingga sekitar lima ribu ton sebagai tambahan pasokan nasional.
Sementara itu, sentra produksi cabai rawit di Pulau Jawa masih terpusat di Temanggung, Brebes, dan Magelang meskipun sebagian besar tanaman masih berada pada fase awal pertumbuhan.
Menurut Sudi, peningkatan produksi dari sejumlah sentra tersebut diharapkan mampu mengantisipasi potensi kenaikan harga cabai rawit menjelang perayaan Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2026/2027 di berbagai wilayah.
Sudi menambahkan petani cabai rawit binaan Kementerian Pertanian telah menyatakan kesiapan mendukung program Fasilitasi Distribusi Pangan untuk membantu menjaga pasokan dan menstabilkan harga di daerah tujuan distribusi.
Melalui program tersebut, pasokan cabai rawit dari daerah berproduksi tinggi akan disalurkan ke wilayah yang mengalami lonjakan harga sehingga gejolak pasar dapat ditekan dan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Adapun berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, yang dikelola Bank Indonesia, yang dilansir di Jakarta, Minggu, mencatat harga komoditas cabai merah besar Rp54.200 per kilogram (kg), cabai merah keriting Rp62.950 per kg, cabai rawit hijau Rp64.700 per kg, dan cabai rawit merah mencapai Rp90.050 per kg.
Pewarta: Muhammad Harianto
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.