Badung (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) akan mendalami keluhan para eksportir di Bali soal proses administrasi karantina yang panjang.
“Diskusi tadi membahas agar dalam prosesnya nanti tidak panjang, tidak lama-lama, tidak berkelok-kelok, tidak terlalu banyak rantai yang dilewati, kami ke sini berdiskusi meminta masukan kira-kira regulasi apa yang perlu kita perbaiki atau di bagian mana usaha-usaha mereka harus kita bantu,” kata Kepala Barantin Abdul Kadir Karding di sela sarasehan eksportir di Badung, Bali, Jumat.
Ia melihat salah satu proses yang dikeluhkan eksportir adalah proses registrasi untuk negara tujuan ke China dan negara-negara di Eropa.
China dan Eropa, menurutnya, adalah kawasan tujuan ekspor yang tergolong ketat, sehingga untuk ini solusi Barantin melakukan lobi dan negosiasi perdagangan dengan prinsip timbal balik.
Digitalisasi juga terus didorong, tujuannya membangun integritas di pegawai dan memotong proses administrasi yang kurang penting.
“Kami sudah mulai jalan termasuk integrasi data dengan berbagai lembaga atau kementerian, misalnya dengan perikanan kita harus integrasi data supaya ketika mereka sudah melakukan survailans maka Barantin tidak usah,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu eksportir Yoseph Triono membagikan keluhannya soal proses administrasi panjang untuk mengirim komoditas buah dan produk perikanan ke China.
“Setiap komoditas itu harus memiliki nomor registrasi, seperti misalnya manggis di pertanian harus punya nomor registrasinya sendiri, itu yang menyulitkan kita untuk ekspansi pasar di China, jadi apabila ada eksportir-eksportir baru yang ingin ekspor ke China, itu prosesnya cukup lama,” ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat memangkas proses panjang tersebut, sebab dari pendaftaran, sertifikasi, sampai mengirim butuh waktu setahun sementara potensi komoditas pertanian asal Bali sangat besar.
“Sehingga apabila perusahaan itu hanya ekspor ke China, dia sambil menunggu tidak bisa kerjakan apa-apa, padahal pabrik dan segala sesuatunya sudah siap, kendalanya di sana, padahal potensi besar seperti manggis Bali permintaannya 3-4 ton per hari, bahkan dulu pernah 60 ton,” tuturnya.
Pewarta: Ni Putu Putri Muliantari
Editor : Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.