Beda Pandangan Politik, Harus Cut Off? Dilema Gen Z Hadapi Perbedaan

Liputan6.com, Jakarta - Memutus hubungan pertemanan (cut off) kini tak selalu berawal dari persoalan personal. Bagi sebagian Gen Z, perbedaan pandangan politik (political view) di media sosial juga bisa menjadi alasan untuk melakukan unfollow, memblokir akun, hingga mengakhiri pertemanan.

Fenomena ini semakin terlihat ketika isu sosial dan politik ramai diperbincangkan. Pertemanan yang semula dekat bisa merenggang hanya karena perbedaan pilihan kandidat, pandangan terhadap kebijakan publik, atau sikap terhadap isu kemanusiaan global.

Bagi sebagian Gen Z, perbedaan pilihan politik bukan masalah selama masing-masing pihak bisa saling menghargai. Namun, bagi yang lain, berteman dengan orang yang berbeda pandangan politik justru dianggap melelahkan dan menguras emosi.

Sosiolog Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Rakhmat Hidayat, mengatakan, perbedaan preferensi politik berkaitan erat dengan identitas sosial, terutama di kalangan Gen Z.

"Saya melihatnya bahwa pilihan politik itu bukan semata-mata preferensi soal kebijakan atau isu politik. Tetapi secara sosiologis itu menjadi penanda ada identitas kelompok," kata dia kepada Liputan6.com, ditulis Jumat (28/8/2026).

Rakhmat menjelaskan, kondisi ini turut memunculkan fenomena in group dan out group, ketika perbedaan pilihan politik membentuk batas antara kelompok 'kita' dan 'mereka'.

Menurut dia, ketika seseorang telah mengidentifikasi diri dengan kubu politik tertentu, perbedaan pandangan tak lagi dianggap sekadar perbedaan pendapat, tetapi dapat dipersepsikan sebagai ancaman terhadap identitas diri maupun kelompok.

"Jadi bukan sekadar perbedaan pendapat teknis. Nah, itu yang kemudian perbedaan cara pandang tentang identitas diri berpengaruh terhadap pertemanan karena dianggap berbeda. Berbeda tadi yang disebut dengan kita, kami," jelas Rakhmat.

Perbedaan preferensi politik yang dianggap terlalu jauh pun dapat memicu keputusan untuk cut off. Namun, Rakhmat menilai, cut off sebenarnya merupakan hal yang lumrah dalam relasi sosial, terutama ketika muncul konflik atau ketegangan.

Meski demikian, dia mengingatkan agar perbedaan tersebut tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar, terutama yang berkaitan dengan isu SARA.

"Dampaknya sebenarnya kalau cut off sementara. Sementara maksudnya karena berbeda itu hal yang biasa, tapi kalau cut off jadi permanen itu sebenarnya enggak sehat dalam relasi sosial masyarakat kita," tutur Rakhmat.

Bisa Menimbulkan Polarisasi

Rakhmat menjelaskan, cut off yang berlangsung permanen dapat memperlebar polarisasi sosial. Perbedaan yang awalnya hanya terjadi dalam pilihan politik dapat berkembang menjadi sekat antarkelompok, mulai dari perbedaan identitas hingga latar belakang sosial.

Menurut dia, polarisasi yang semakin tajam dalam jangka panjang berbahaya karena dapat memicu konflik laten, yakni konflik yang terus tertanam dan berpotensi muncul kembali di tengah masyarakat.

"Dalam jangka panjang itu berbahaya. Kenapa? Karenabisa melahirkan konflik laten, konflik yang tertanam terus," ungkap Rakhmat.

Karena itu, dia menilai Gen Z perlu mendapatkan pendidikan politik yang lebih kritis dan menarik.

Menurutnya, perbedaan pilihan politik merupakan hal yang wajar dalam kehidupan sosial dan tidak semestinya selalu berujung pada konflik atau pemutusan hubungan.

Dia menyebut perbedaan tersebut sebagai bagian dari latihan untuk membangun kemampuan hidup bersama dalam keberagaman.

"Boleh cut off tapi sementara, enggak perlu bertengkar, enggak perlu sampai cut off permanen, berkepanjangan. Itu sebenarnya, harus hati-hati, karena kalau cut off berkepanjangan, itu awal mula lahirnya konflik, konflik dalam jangka panjang," tutur Rakhmat.