Bluetapes Rangkum Berbagai Fase Hubungan Antarmanusia di Album Passengers - Pophariini

Band rock alternatif/power pop asal Yogyakarta, Bluetapes, resmi merilis album penuh perdana bertajuk Passengers pada 17 Juli 2026. Berisi 10 lagu, album ini menjadi langkah baru dalam perjalanan Gifari (vokal, gitar), Wildan (gitar), dan Hajid (bas) setelah sebelumnya memperkenalkan karya-karya mereka melalui sejumlah rilisan.

Passengers merekam kisah tentang orang-orang yang pernah hadir dalam perjalanan hidup. Layaknya penumpang dalam sebuah perjalanan, mereka datang tanpa selalu direncanakan, berbagi ruang dan cerita, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju tujuan masing-masing. Sepuluh lagu di dalamnya merangkum berbagai fase hubungan antarmanusia, mulai dari pertemuan, kedekatan, perubahan, hingga perpisahan.

Album ini dikerjakan selama kurang lebih tiga tahun, sejak 2021 hingga rampung pada 2024. Meski melalui proses yang cukup panjang, Bluetapes tidak banyak mengubah arah yang telah mereka tentukan sejak awal penggarapan album.

“Sebenernya kalau secara general gak banyak yang berubah, karena dari awal kami udah tau album ini mau dibawa ke mana arahnya secara musik. Paling kalau dari segi teknis beberapa lagu yang udah sempat kami rilis gitarnya di-take ulang buat nyamain mood album,” kata Gifari saat dihubungi Pophariini (21/07).

Secara musikal, Passengers bergerak di wilayah rock alternatif dan power pop dengan pengaruh dari sejumlah band, seperti Superdrag, Sebadoh, Ash, dan Teenage Fanclub. Referensi tersebut tidak digunakan untuk meniru karakter musik tertentu, melainkan menjadi batas sekaligus tolok ukur bagi Bluetapes dalam menjaga arah album.

“Kalau buat referensi kebetulan di awal emang kami sepakat buat mainin sekitaran alt-rock dan power pop, jadi beberapa referensi yang disebut di atas emang sengaja kami ambil buat jadi tolak ukur biar gak keluar jalur, bukan mencoba terdengar seperti band-band yang kami jadikan referensi tadi,” ujar Gifari.

Dalam proses produksinya, Bable Sagala turut berperan sebagai produser dan membantu mengarahkan album agar memiliki karakter suara yang lebih modern. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya Bluetapes untuk mempertahankan akar referensinya sembari tetap menghadirkan identitas mereka sendiri.

“Waktu itu produser kami, Bable Sagala, juga ngarahin secara sound baiknya dibikin lebih modern biar lebih segar dan ada identitasnya,” tambah Gifari.

Setelah merilis Passengers, Bluetapes juga berharap dapat memperluas pertemuan mereka dengan skena musik di Yogyakarta. Salah satu kolektif yang ingin mereka datangi adalah Simak Siar, yang menurut mereka memiliki pendekatan berbeda dalam menggelar acara musik.

“Menurut kami Simak Siar kolektif yang konsepnya lumayan unik di Jogja, karena di saat umumnya orang lain bikin gigs saat weekend, mereka bikin di hari Kamis, dan tetap ramai,” tutup Gifari.