BMKG sebut Kota Sampit berpotensi terkepung kabut asap
Minggu, 19 Juli 2026 20:11 WIB
Suasana Kota Sampit menjelang pagi hari yang mulai diliputi kabut asap, Minggu (19/7/2026). ANTARA/Devita Maulina
Sampit (ANTARA) - Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, menyebut Kota Sampit berpotensi terdampak kabut asap apabila kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah selatan terus meluas, seiring dominannya arah angin tenggara atau angin timuran.
“Sekarang angin timuran sudah dominan. Jadi, jika karhutla terjadi di wilayah selatan, kemungkinan besar asapnya akan terbawa ke Kota Sampit, yang kami takutkan itu,” kata Kepala BMKG Kotawaringin Timur Mulyono Leo Nardo di Sampit, Minggu.
Ia menjelaskan pada musim kemarau saat ini pola angin didominasi bertiup dari arah timur, tenggara dan selatan yang berpotensi membawa asap karhutla menuju wilayah perkotaan.
Ia menilai kondisi ini perlu menjadi perhatian bersama mengingat berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), sebagian besar kejadian karhutla belakangan ini memang terjadi di wilayah selatan kabupaten yang dijuluki Bumi Habaring Hurung tersebut.
“Kalau kebakaran hutan dan lahan banyak di daerah selatan, asap-asap itu akan dibawa ke daerah Sampit atau ke wilayah utara mengikuti arah angin yang dominan,” ujarnya.
Mulyono juga menerangkan fenomena kabut asap yang muncul pada malam hingga pagi hari dipengaruhi oleh perubahan kecepatan angin. Saat siang hari, angin yang relatif lebih kuat membuat asap terus bergerak dan menyebar ke wilayah lain.
Baca juga: Pengurus baru DPD PAN Kotim langsung tancap gas
Sebaliknya, ketika memasuki malam hari, kondisi angin cenderung lebih tenang sehingga pergerakan asap melambat bahkan dapat bertahan di suatu wilayah dalam waktu lebih lama.
Hal ini menjadi jawaban atas kondisi Kotim, khususnya Kota Sampit, dalam beberapa waktu belakangan. Pada dini hingga pagi hari suasana berkabut akibat asap tebal meliputi wilayah tersebut.
“Kalau malam hari anginnya cenderung lebih tenang, sehingga asap itu menetap di situ dan tidak bisa bergerak ke mana-mana. Itu sebabnya kabut asap sering terlihat lebih pekat pada malam sampai pagi hari,” terangnya.
Ia menambahkan tidak ada waktu pasti kapan kondisi angin mulai melemah karena dipengaruhi berbagai faktor atmosfer. Namun, secara umum kondisi tersebut lebih sering terjadi sejak sore hingga malam hari.
Apabila pada sore hari masih terbentuk awan-awan konvektif, maka angin masih dapat bergerak lebih kencang sehingga membantu menggeser massa asap. Sebaliknya, ketika malam hari aktivitas awan berkurang, angin ikut melemah dan asap cenderung bertahan di dekat permukaan.
“Secara umum kabut asap cenderung muncul pada malam sampai pagi hari, kemudian menjelang siang mulai berkurang atau menghilang karena pergerakan angin kembali meningkat,” demikian Mulyono.
Baca juga: BMKG Kotim peringatkan potensi gelombang tinggi selama kemarau
Baca juga: Bapperida Kotim dorong optimalisasi pelaporan inovasi daerah
Baca juga: Dari kebun ke ruang ilmiah, PT HSL meneguhkan keberlanjutan sawit berbasis riset
Pewarta : Devita Maulina
Uploader: Admin 2
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.