Jakarta (ANTARA) - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat di tiga provinsi di Pulau Kalimantan memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menyusul masih pekatnya sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, menyampaikan bahwa hasil analisa terkini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi polutan asap terpantau pekat di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Baca juga: BNPB minta warga cek ISPU karhutla di Kalimantan dan Sumatera
"Untuk prediksi sebaran polutan hari ini berdasarkan BMKG, di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan merupakan titik polutan yang masih pekat. Artinya, kabut asap yang ditemukan di sana masih sangat tebal," kata dia.
Meski demikian, dia menambahkan bahwa BMKG juga memprediksi kondisi atmosfer pada esok hari akan berangsur cerah di beberapa titik, terutama untuk wilayah Sumatera bagian utara seperti Provinsi Riau.
Guna memastikan keselamatan aktivitas masyarakat dan pengguna transportasi penerbangan, BNPB memfokuskan pemadaman titik api di area pemukiman warga, sekitar bandara, serta wilayah berpotensi sebaran tinggi.
Pihaknya mencatat tim petugas gabungan berhasil memadamkan kawasan hutan dan lahan gambut yang terbakar seluas 421 hektare dalam sehari di enam provinsi prioritas meliputi Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah per Rabu (9/9).
Baca juga: DLH Kota Jambi: Tren ISPU menurun, tetapi masih belum sehat
Baca juga: Kemendikdasmen: ISPU jadi indikator sekolah di daerah karhutla
Masyarakat yang hendak beraktivitas atau bepergian ke daerah terdampak diimbau untuk memantau pembaruan kualitas udara secara berkala melalui laman resmi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tautan https://ispu.kemenlh.go.id/.
"Arahan Bapak Kepala BNPB dilakukan penguatan dan penebalan personel Satgas darat di lapangan, karena kita tahu Satgas darat lebih efektif melakukan pemadaman di lapangan," kata Berton.
Pewarta: M. Riezko Bima Elko Prasetyo
Editor: Endang Sukarelawati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.