Garut (ANTARA) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menyampaikan daerah yang dilanda kekeringan akibat musim kemarau masih bisa terkendali melalui pemenuhan kebutuhan air bagi masyarakat maupun lahan pertanian.
"Kami mendengarkan laporan-laporan dari SKPD, ternyata memang masih ada beberapa SKPD yang bisa menangani dengan fungsinya dari anggaran masing-masing," kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Garut Aah Anwar Saefuloh di Garut, Selasa.
Ia menuturkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut sudah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan yang menginstruksikan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) maupun instansi vertikal untuk bersama-sama mengatasi daerah yang terdampak kekeringan.
Selama ini, kata dia, hasil rapat koordinasi dengan seluruh SKPD melaporkan sudah terjadi bencana kekeringan yang menyebabkan masyarakat kesulitan air bersih dan lahan pertanian kekurangan pasokan air, kondisi itu terus dipantau dan dievaluasi agar tetap bisa diatasi.
"Kami akan evaluasi lagi di rapat koordinasi nanti, sekarang, minggu ini di bulan September nanti," katanya.
Ia menyampaikan saat ini statusnya masih siaga darurat kekeringan yang berlaku sampai 30 September 2026. Selama status itu pihaknya akan siap siaga mendistribusikan air ke daerah yang terdampak.
Kondisi kekeringan yang dinilai masih terkendali itu, kata dia, maka status darurat bencananya masih ditetapkan siaga, belum naik pada status tanggap darurat bencana.
"Beberapa SKPD masih bisa menangani, jadi masih dalam kondisi siaga darurat, belum siap untuk masuk ke tanggap darurat," katanya.
Selama siaga darurat kekeringan ini pihaknya telah mendistribusikan air bersih dibantu PDAM dan instansi lainnya untuk masyarakat.
Sedangkan lahan pertanian yang dilanda kekeringan, kata dia, diatasi langsung oleh Dinas Pertanian dan instansi lainnya dengan melakukan berbagai upaya, seperti melakukan pompanisasi dan pemanfaatan irigasi untuk lahan pertanian.
Pewarta: Feri Purnama
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.