BPBD Temanggung memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui Destana

BPBD Temanggung memperkuat kesiapsiagaan bencana melalui Destana

Senin, 10 Agustus 2026 16:53 WIB

Image Print

Foto udara petugas Desa Tangguh Bencana (Destana) Gunung Putri mendampingi tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) menggunakan perahu karet saat memantau hama tanaman eceng gondok yang memenuhi Situ Gunung Putri, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (18/7/2025). Eceng gondok yang menutupi permukaan situ menyebabkan pendangkalan dan menjadi salah satu penyebab banjir di kawasan tersebut saat terjadi hujan deras, dan penduduk setempat mengharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk menangani permasalahan tersebut. ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya/YU

Temanggung (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi potensi bencana melalui pengembangan Desa Tangguh Bencana (Destana).

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Temanggung Totok Nursetyanto, di Temanggung, Senin, mengatakan hingga saat ini terdapat delapan desa rintisan Destana dan 70 desa yang telah berstatus Destana Pratama.

Pengembangan Destana dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk BPBD Provinsi Jawa Tengah dan perguruan tinggi. Salah satunya melalui program Kuliah Kerja Nyata Universitas Negeri Semarang (KKN Unnes) yang melaksanakan pendampingan pembentukan Destana di 14 desa di Kecamatan Ngadirejo.

Dengan adanya pendampingan tersebut, katanya, terdapat 84 desa yang masuk dalam pengembangan Destana Pratama di Kabupaten Temanggung. Namun, proses pembentukan di sejumlah desa masih berjalan dan belum seluruhnya mencapai 100 persen.

Pendampingan antara lain dilaksanakan di Desa Banjarsari, Gondangwinangun dan Gejagan. Kegiatan melibatkan mahasiswa KKN Unnes, BPBD Kabupaten Temanggung, pemerintah desa dan masyarakat.

Menurut dia, pembentukan Destana tidak hanya berkaitan dengan aspek kelembagaan. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai potensi ancaman bencana, kerentanan wilayah, serta pemanfaatan sumber daya yang dimiliki desa dalam menghadapi kondisi darurat.

"Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana di wilayahnya masing-masing," katanya.

Keberadaan Destana diharapkan mampu memperkuat kesiapsiagaan masyarakat sejak sebelum bencana terjadi. Masyarakat diharapkan mampu mengenali potensi risiko, melakukan upaya mitigasi, mengambil langkah yang tepat saat terjadi keadaan darurat, serta mendukung proses pemulihan pascabencana.

Ia menuturkan, pengurangan risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, masyarakat, relawan, perguruan tinggi dan berbagai pemangku kepentingan perlu terus diperkuat.

Pewarta: Heru Suyitno
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.