Ringkasan
Menurut Statistik Penunjang Pendidikan 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata biaya pendidikan pada jenjang perguruan tinggi mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran.
Namun, angka tersebut bukan berarti seluruh kebutuhan mahasiswa selama satu tahun kuliah hanya sebesar itu. Dalam praktiknya, mahasiswa juga harus menyiapkan berbagai biaya lain yang meliputi:
uang kuliah atau UKT;
biaya tempat tinggal atau kos;
kebutuhan makan sehari-hari;
transportasi;
buku dan perlengkapan kuliah;
laptop atau perangkat belajar;
akses internet;
biaya praktikum dan kegiatan akademik.
Artinya, total pengeluaran mahasiswa bisa jauh lebih besar dibanding angka rata-rata yang dipublikasikan BPS.
BPS Ungkap Biaya Pendidikan Terus Meningkat
Publikasi BPS menunjukkan bahwa biaya pendidikan mengalami kenaikan pada berbagai jenjang. Pada tingkat perguruan tinggi, rata-rata biaya pendidikan nasional telah mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran.
Sementara itu, pada kelompok rumah tangga dengan tingkat pengeluaran 20% tertinggi, rata-rata biaya pendidikan bahkan mencapai Rp24,42 juta per tahun ajaran.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa besarnya biaya pendidikan sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari pilihan perguruan tinggi, lokasi tempat tinggal, hingga kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.
Meski demikian, satu hal yang menjadi benang merah adalah pendidikan tinggi membutuhkan komitmen finansial yang tidak sedikit dan berlangsung selama beberapa tahun.
Mengapa Angka Rp19 Juta Belum Menggambarkan Seluruh Biaya Kuliah?
Sekilas, rata-rata biaya pendidikan sebesar Rp19 juta per tahun mungkin terdengar sudah cukup besar. Namun, angka tersebut sering kali disalahartikan sebagai total biaya yang harus dikeluarkan mahasiswa selama satu tahun.
Padahal, kehidupan mahasiswa tidak hanya diisi oleh aktivitas di ruang kelas.
Mahasiswa yang merantau, misalnya, harus mengalokasikan anggaran tambahan untuk menyewa tempat tinggal, memenuhi kebutuhan makan, membayar transportasi, membeli buku, hingga menyediakan perangkat elektronik yang mendukung proses belajar.
Belum lagi jika program studi yang dipilih memiliki kebutuhan praktikum khusus atau mewajibkan mahasiswa mengikuti kegiatan lapangan yang membutuhkan biaya tambahan.
Dengan kata lain, biaya pendidikan formal hanyalah satu bagian dari keseluruhan pengeluaran yang harus dipersiapkan keluarga.
Beban Terbesar Sering Kali Berasal dari Biaya Hidup
Di sinilah banyak keluarga mulai merasakan bahwa anggaran pendidikan yang semula dianggap cukup ternyata cepat berkurang.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, sewa tempat tinggal, hingga perangkat teknologi membuat pengeluaran mahasiswa terus berubah mengikuti kondisi ekonomi.
Artinya, tantangan pendidikan saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh kenaikan uang kuliah, tetapi juga oleh inflasi biaya hidup yang berlangsung bersamaan.
Inilah alasan mengapa dua mahasiswa dengan besaran UKT yang sama belum tentu memiliki total pengeluaran yang sama pula.
Mahasiswa yang tinggal bersama orang tua tentu memiliki beban berbeda dibanding mahasiswa yang harus merantau ke kota lain untuk menempuh pendidikan.
Biaya Kuliah Hanya Sebagian dari Total Investasi Pendidikan
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menyusun anggaran pendidikan hanya berdasarkan biaya yang tercantum dalam tagihan kampus.
Padahal, selama empat hingga lima tahun masa studi, mahasiswa akan menghadapi berbagai kebutuhan yang terus berubah.
Sebagai ilustrasi, seorang mahasiswa membayar biaya pendidikan sekitar Rp19 juta dalam satu tahun ajaran.
Di luar itu, ia juga mengeluarkan biaya untuk kos, makan, transportasi, internet, perlengkapan kuliah, hingga sesekali mengganti perangkat elektronik yang digunakan untuk belajar.
Jika seluruh komponen tersebut dijumlahkan, total pengeluaran tahunan dapat meningkat signifikan, bahkan mendekati dua kali lipat dari biaya pendidikan formal, tergantung kota tempat kuliah dan gaya hidup mahasiswa.
Simulasi sederhana ini menunjukkan bahwa data BPS sebaiknya dipahami sebagai gambaran biaya pendidikan formal, bukan keseluruhan biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan pendidikan tinggi.
Perencanaan Keuangan Menjadi Semakin Penting
Kondisi tersebut membuat perencanaan keuangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari persiapan memasuki perguruan tinggi.
Tidak sedikit keluarga yang baru menghitung kebutuhan pendidikan setelah anak dinyatakan lolos seleksi masuk kampus. Akibatnya, ruang untuk menyusun strategi keuangan menjadi lebih sempit karena sebagian besar biaya harus dipenuhi dalam waktu yang relatif singkat.
Sebaliknya, perencanaan yang dimulai lebih awal memberikan kesempatan bagi keluarga untuk menyesuaikan tabungan, investasi, maupun sumber pendanaan lainnya sesuai perkembangan biaya pendidikan.
Baca Juga: Tak Sekadar Kuliah di Australia, Aurel Punya Mimpi Besar Kembangkan Pengobatan Kanker untuk Indonesia
Baca Juga: Beasiswa Garuda Antar Siswa Tangsel Kuliah di Kampus Teknologi Elite Korea
Tantangan Terbesar Bukan Membayar UKT, tetapi Menjaga Keuangan hingga Lulus
Kenaikan biaya pendidikan membuat banyak keluarga mulai menyadari bahwa tantangan kuliah bukan hanya terletak pada pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) setiap semester. Yang lebih sulit justru menjaga kondisi keuangan tetap stabil selama empat hingga lima tahun masa studi.
Dalam kurun waktu tersebut, banyak hal bisa berubah. Pendapatan keluarga dapat menurun, biaya hidup meningkat, atau muncul kebutuhan mendesak yang sebelumnya tidak masuk dalam perencanaan. Situasi seperti inilah yang sering membuat anggaran pendidikan meleset.
Direktur Bisnis Individu merangkap Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, mengatakan tantangan pendidikan di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan akses ke perguruan tinggi, tetapi juga kemampuan menjaga ketahanan finansial.
"Ketika berbicara mengenai dana pendidikan, banyak yang masih berfokus pada berapa besar dana yang harus dikumpulkan. Padahal, tantangan yang sebenarnya adalah memastikan tujuan tersebut tetap dapat dicapai meskipun kondisi keuangan berubah. Banyak keluarga baru menyadari besarnya komitmen biaya pendidikan ketika anak sudah diterima di perguruan tinggi ketika idealnya perencanaan dilakukan jauh sebelum momen tersebut," ujar Fabiola melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, Selasa, 14 Juli 2026.
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa besarnya biaya kuliah hanyalah satu sisi dari persoalan. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan rencana pendidikan tetap berjalan meskipun kondisi ekonomi keluarga mengalami perubahan.
Mengapa Biaya Kuliah Terasa Semakin Berat?
Jika melihat angka rata-rata Rp19,01 juta per tahun, sebagian orang mungkin beranggapan biaya tersebut masih dapat dipenuhi melalui tabungan. Namun, realitas di lapangan sering kali berbeda.
Mahasiswa tidak hanya membayar biaya akademik kepada perguruan tinggi, tetapi juga harus memenuhi berbagai kebutuhan lain yang terus meningkat seiring waktu.
Pengeluaran tersebut antara lain meliputi:
biaya tempat tinggal atau kos;
makan sehari-hari;
transportasi;
buku dan bahan perkuliahan;
laptop atau perangkat penunjang belajar;
akses internet;
biaya praktikum maupun kegiatan akademik lainnya.
Ketika seluruh komponen tersebut digabungkan, total pengeluaran selama satu tahun bisa jauh melampaui angka rata-rata biaya pendidikan yang dicatat BPS.
Kondisi ini juga dipengaruhi inflasi. Harga makanan, tarif transportasi, biaya sewa tempat tinggal, hingga perangkat elektronik cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Artinya, keluarga bukan hanya menghadapi kenaikan biaya pendidikan, tetapi juga kenaikan biaya hidup yang berjalan bersamaan.
Simulasi: Berapa Total Pengeluaran Mahasiswa dalam Setahun?
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan seorang mahasiswa yang kuliah di luar kota.
Berdasarkan data BPS, rata-rata biaya pendidikan mencapai Rp19,01 juta per tahun. Namun, mahasiswa tersebut juga membutuhkan biaya untuk kebutuhan sehari-hari.
Sebagai ilustrasi sederhana, jika setiap bulan ia mengeluarkan:
biaya kos Rp1 juta;
makan Rp1,5 juta;
transportasi Rp300 ribu;
internet Rp200 ribu;
kebutuhan akademik dan perlengkapan sekitar Rp500 ribu.
Total biaya hidup sudah mencapai sekitar Rp3,5 juta per bulan atau sekitar Rp42 juta dalam setahun.
Jika digabungkan dengan rata-rata biaya pendidikan sebesar Rp19,01 juta, maka total kebutuhan selama satu tahun bisa mencapai lebih dari Rp60 juta, bahkan belum memasukkan biaya tak terduga seperti perbaikan laptop, kebutuhan kesehatan, atau kegiatan akademik tertentu.
Simulasi ini menunjukkan bahwa angka yang dirilis BPS sebaiknya dipahami sebagai gambaran biaya pendidikan formal, bukan keseluruhan biaya yang harus disiapkan mahasiswa.
Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan Orang Tua
Masih banyak keluarga yang mulai menghitung kebutuhan pendidikan setelah anak diterima di perguruan tinggi.
Akibatnya, fokus lebih banyak tertuju pada pembayaran biaya masuk atau UKT, sementara pengeluaran rutin selama masa kuliah kurang diperhitungkan.
Padahal, biaya hidup yang muncul setiap bulan justru dapat menjadi beban terbesar dalam jangka panjang, terutama bagi mahasiswa yang harus merantau.
Kesalahan lain adalah menganggap kondisi ekonomi keluarga akan tetap sama selama empat tahun ke depan. Faktanya, perubahan pekerjaan, penurunan pendapatan, maupun kebutuhan kesehatan dapat memengaruhi kemampuan membiayai pendidikan sewaktu-waktu.
Perencanaan Dana Pendidikan Perlu Lebih Komprehensif
Melihat berbagai tantangan tersebut, menyiapkan dana pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan tabungan.
Fabiola menilai setiap tujuan keuangan jangka panjang membutuhkan dua fondasi yang sama penting, yakni membangun aset sekaligus mengelola risiko.
"Literasi keuangan perlu berkembang dan bukan lagi berputar mengenai bagaimana mengelola pendapatan, menabung, atau berinvestasi. Literasi keuangan juga termasuk memahami pentingnya membangun ketahanan finansial. Dengan begitu, ketika menghadapi kondisi yang tidak diharapkan, masyarakat tidak harus mengorbankan tujuan-tujuan finansial yang telah dipersiapkan sejak lama," tambahnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan saat ini tidak lagi cukup dipahami sebatas kemampuan menabung atau berinvestasi. Kesiapan menghadapi risiko yang dapat mengganggu kondisi keuangan juga menjadi bagian penting dari perencanaan pendidikan.
Dalam konteks tersebut, perlindungan finansial seperti asuransi dapat menjadi salah satu instrumen pendukung. Perannya bukan menggantikan tabungan atau investasi, melainkan membantu menjaga stabilitas keuangan ketika terjadi risiko yang memengaruhi kesehatan maupun kemampuan memperoleh penghasilan.
Data BPS Menjadi Pengingat Penting bagi Keluarga
Publikasi BPS mengenai rata-rata biaya pendidikan sebesar Rp19,01 juta per tahun ajaran seharusnya tidak dipahami semata-mata sebagai angka statistik.
Data tersebut menjadi sinyal bahwa pendidikan tinggi memerlukan komitmen finansial yang semakin besar. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh, semakin kompleks pula kebutuhan yang harus dipersiapkan.
Bagi keluarga kelas menengah, kondisi ini menuntut perubahan cara pandang terhadap dana pendidikan. Perencanaan tidak lagi cukup berhenti pada target mengumpulkan sejumlah uang sebelum anak masuk kuliah, tetapi juga harus mempertimbangkan bagaimana menjaga kemampuan finansial hingga proses belajar selesai.
Sebagai perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan, IFG Life menyatakan terus mendorong peningkatan literasi keuangan masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai risiko yang dapat memengaruhi tujuan keuangan jangka panjang.
"Melalui perlindungan yang terjangkau dan menyeluruh, IFG Life berkomitmen menjadi mitra masyarakat dalam menjaga stabilitas keuangan sekaligus membantu mewujudkan berbagai tujuan hidup, termasuk pendidikan, demi meningkatkan kualitas hidup," pungkas Fabiola.
Pada akhirnya, data BPS mengenai rata-rata biaya kuliah yang telah mencapai Rp19,01 juta per tahun bukan sekadar menunjukkan bahwa biaya pendidikan semakin mahal. Lebih dari itu, angka tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan tinggi merupakan investasi jangka panjang yang membutuhkan kesiapan finansial sejak dini.
Semakin awal keluarga menyusun strategi keuangan yang mencakup tabungan, investasi, dana darurat, serta pengelolaan risiko, semakin besar peluang mahasiswa dapat menyelesaikan pendidikan tanpa terganggu oleh perubahan kondisi ekonomi. Di tengah tren kenaikan biaya pendidikan, kesiapan finansial menjadi faktor yang tak kalah penting dibanding keberhasilan lolos masuk perguruan tinggi.
Baca Juga: PIK2 Seleksi 48 Calon Penerima Beasiswa Pesisir Nusantara, Dorong Akses Kuliah bagi Generasi Muda
Baca Juga: AI Makin Canggih, Ini 12 Jurusan Kuliah yang Sulit Digantikan di Dunia Kerja
FAQ
Berapa rata-rata biaya kuliah di Indonesia menurut BPS?
Berdasarkan Statistik Penunjang Pendidikan 2024 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata biaya pendidikan pada jenjang perguruan tinggi mencapai Rp19,01 juta per tahun ajaran. Angka ini merupakan rata-rata nasional dan belum mencakup seluruh biaya hidup mahasiswa selama kuliah.
Apakah biaya Rp19 juta sudah mencakup seluruh kebutuhan mahasiswa?
Belum. Selain biaya pendidikan formal, mahasiswa juga perlu mengeluarkan biaya untuk tempat tinggal, makan, transportasi, internet, buku, laptop, praktikum, dan kebutuhan akademik lainnya. Total pengeluaran dapat jauh lebih besar dibanding rata-rata biaya pendidikan yang dicatat BPS.
Mengapa biaya kuliah terasa semakin mahal?
Selain adanya kenaikan biaya pendidikan, mahasiswa juga menghadapi peningkatan biaya hidup seperti sewa tempat tinggal, transportasi, makanan, serta kebutuhan teknologi yang mendukung proses belajar. Kombinasi faktor tersebut membuat total biaya kuliah terus meningkat.
Bagaimana cara menyiapkan dana kuliah sejak dini?
Perencanaan dana kuliah dapat dimulai dengan menabung secara rutin, berinvestasi sesuai tujuan keuangan, menyiapkan dana darurat, dan secara berkala mengevaluasi kebutuhan biaya pendidikan agar tetap sesuai dengan perkembangan ekonomi.
Mengapa keluarga perlu menghitung biaya hidup mahasiswa?
Biaya hidup sering menjadi komponen pengeluaran terbesar selama masa kuliah, terutama bagi mahasiswa yang merantau. Menghitung biaya hidup sejak awal membantu keluarga menyusun anggaran yang lebih realistis dan mengurangi risiko kekurangan dana di tengah masa studi.
Apa pentingnya perlindungan finansial dalam perencanaan pendidikan?
Perlindungan finansial berfungsi membantu menjaga stabilitas ekonomi keluarga ketika menghadapi risiko seperti sakit atau kehilangan penghasilan. Dengan demikian, dana yang telah dipersiapkan untuk pendidikan tidak mudah teralihkan untuk kebutuhan mendesak lainnya.