BRMP Lampung sebut empat daerah miliki lahan rawa sangga produksi saat kemarau
Sabtu, 15 Agustus 2026 21:40 WIB
Ilustrasi- Lahan pertanian di Kabupaten Pringsewu saat musim tanam II 2026. ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi.
Ada empat kabupaten yang lahan rawanya kuat dan berproduksi tinggi yakni di Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang, Lampung Timur dan Lampung Selatan
Bandarlampung (ANTARA) - Plt Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Lampung Endro Gunawan mengatakan empat daerah yang memiliki lahan rawa di Provinsi Lampung dioptimalkan untuk menyangga produksi padi di daerah itu pada masa puncak kemarau.
"Ada empat kabupaten yang lahan rawanya kuat dan berproduksi tinggi yakni di Kabupaten Mesuji, Tulang Bawang, Lampung Timur dan Lampung Selatan. Luas lahan rawa total 60 persen atau sekitar 202 ribu hektare dari luas baku sawah total Lampung sekitar 337.284 hektare, dan itu yang akan membackup produksi yang terdampak kekeringan," ujar Plt Kepala BRMP Lampung Endro Gunawan di Bandarlampung, Sabtu.
Ia mengatakan daerah rawa tersebut juga berfungsi menyediakan cadangan produksi, karena saat musim kemarau daerah dengan lahan rawa cukup luas akan memulai tanam padi.
"Biasanya di kemarau ini mereka mulai tanam seperti di daerah Tulang Bawang, Mesuji dan di Lampung Selatan. Untuk menjaga produktivitas lahan rawa terjaga, dilakukan pula program optimalisasi lahan (oplah) rawa," ucap dia.
Program optimalisasi lahan rawa tersebut meliputi sejumlah kegiatan seperti melakukan normalisasi saluran atau pintu-pintu air untuk mencegah banjir saat hujan.
Kemudian dalam pelaksanaan kegiatan optimalisasi lahan rawa dilakukan pula upaya meningkatkan fungsi jaringan irigasi, memaksimalkan instalasi unit perpompaan dengan meningkatkan partisipasi perkumpulan petani pemakai air (P3A), gabungan perkumpulan petani pengguna air (GP3A), kelompok tani (poktan) dan gabungan kelompok tani (gapoktan).
"Secara umum yang memang sudah memasuki awal kemarau, sesuai prediksi kemarin itu ada tiga daerah yang terdampak kemarau lebih awal yakni Kabupaten Lampung Selatan, karena daerah yang dekat dengan Jawa, sehingga jadi yang paling awal dan pertama terdampak kekeringan. Kemudian mulai bergeser ke Kabupaten Pringsewu dan Pesawaran, kemudian baru ke Lampung Tengah," tambahnya.
Ia menjelaskan meskipun Kabupaten Lampung Selatan menjadi daerah yang melaporkan paling awal terdampak kekeringan, namun produktivitas lahan pertanian masih bisa terjaga dengan berproduksinya lahan rawa yang memiliki karakteristik menyimpan air di musim kering.
"Wilayah yang terakhir dan minim terdampak kekeringan ada di Kabupaten Lampung Barat dan Pesisir Barat yang hingga saat ini masih ada hujan. Daerah ini jadi yang terakhir terdampak kemarau sehingga produksi padi bisa terselamatkan," tambahnya.
Menurut dia, meski sejumlah wilayah sentra produksi diperkirakan terdampak kemarau akan tetapi masih bisa berproduksi, dan terbantu dengan adanya lahan rawa.
"Secara teori memang dari daerah yang tidak terlalu terdampak ini bisa membackup produksi yang terdampak. Namun secara luas baku sawah (LBS) Lampung Barat hanya 11 ribu hektare dan Pesisir Barat 7.900 hektare, tidak menjadi sentra atau lumbung padi. Sebab yang paling besar adalah Lampung Tengah seluas 69 ribu hektare, Lampung Timur 55 ribu hektare dan Mesuji, dan daerah ini masih bisa menyokong meski tidak optimal karena kemarau," tambahnya.
Pewarta : Ruth Intan Sozometa Kanafi
Editor:
Agus Wira Sukarta
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.