CNN Indonesia
Rabu, 23 Sep 2026 10:30 WIB
Jakarta, CNN Indonesia --
Tak sedikit orang tua yang menggandakan porsi protein hewani dalam makanan anak, terutama pada bayi yang baru memulai MPASI (makanan pendamping air susu ibu). Tujuannya, agar anak cepat gemuk dan bikin tinggi.
Namun ketimbang bikin tinggi, double protein ini justru berpotensi merusak ginjal anak. Hal ini diungkapkan oleh dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi, Aman Bhakti Pulungan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam sebuah kasus yang pernah ditanganinya, anak yang memakan protein hingga 400-500 gram per hari justru akan merusak kinerja ginjal.
"Saya tidak tahu dari mana ilmu yang menyebut kalau memberi banyak protein itu buat anak jadi tinggi. Yang benar adalah memberikan anak protein yang cukup, itu yang betul," kata Aman di Jakarta, Selasa (22/9), dilansir Antara.
Ia pun menjelaskan, secara genetik manusia tak terbiasa untuk bekerja keras menyaring lebih banyak sisa makanan yang mengandung protein, terutama dari daging. Manusia juga perlu asupan nutrisi lain, seperti karbohidrat, vitamin, mineral, hingga lemak.
Pilihan Redaksi
- Anak Digigit Nyamuk, Bentol dan Merah? Begini Cara Mengatasinya
- Tak Lagi Cemas, Ini 8 Cara Mengatasi Anak Takut ke Dokter Gigi
- Apa yang Terjadi Kalau Sering Menahan BAB? Ini Dampak ke Pencernaan
"Memang kalau anak kita kekurangan protein, ada yang mengarah pada malnutrisi namanya. Tapi bukan berarti, kalau kita kasih protein berlebihan, anak akan lebih tinggi. Tidak begitu," ujar Aman.
Ketimbang hanya fokus pada asupan protein, menurut Aman, orang tua sebaiknya fokus memenuhi keseimbangan gizi anak dengan cara menghadirkan variasi makanan dalam satu piring.
Protein yang diberikan tak harus selalu berasal dari hewan, seperti sapi, ayam, ikan, hingga telur. Orang tua juga bisa memvariasikannya dengan protein nabati, seperti tempe dan tahu.
Kalaupun mau memberi protein hewani, tak perlu menyajikan bahan makanan mahal seperti daging sapi atau ikan salmon. Indonesia punya banyak variasi ikan yang kandungan nutrisinya baik dan tentu harganya lebih murah, misalnya ikan kembung.
Apakah susu dan minyak ikan bisa bikin anak tinggi?
Jika double protein tak berpengaruh pada tinggi anak, lalu apakah susu dan suplemen minyak ikan bisa membantu anak tumbuh lebih tinggi asalkan dikonsumsi setiap hari? Mengenai hal ini, Aman juga kurang setuju.
Menurutnya, susu segar memang baik bagi tubuh karena mengandung kalsium. Namun tak masalah jika susu tak dikonsumsi setiap hari. Adapun jika hendak dikonsumsi setiap hari, cukup 1-2 gelas saja.
"Yang jelas, dua tahun pertama itu harus ASI. Kalau anak mau tambahan susu di atas usia 1 tahun boleh, misalnya fresh milk, bukan susu formula. Kenapa tidak apa-apa kalau tidak ada? karena usia satu tahun anak sudah ikut makanan rumah tangga," tutur Aman.
Agar penyerapan kalsium baik, biasanya asupan vitamin D juga dibutuhkan. Jika kekurangan keduanya, anak bisa berpotensi jadi pendek.
"Tetapi kalau normal, dikasih kalsium atau vitamin D berlebihan, itu tidak akan membuat tiba-tiba tinggi. Apa yang membuatnya tinggi? Hidup sesehat dan seideal mungkin, tidur cukup, olahraga cukup, makan cukup, dan bahagia," kata Aman.
Bagi orang tua yang khawatir terkait tumbuh kembang buah hatinya, Aman menganjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter anak agar mendapatkan penanganan tepat. Dokter anak pun nantinya akan memberikan obat atau vitamin yang sesuai dengan kondisi anak.
"Jadi pemeriksaan harus detail, misalnya anak kekurangan kalsium, kita kasih seluruh vitamin itu kan tidak bisa, harus kita kasih vitamin D, apalagi tulang juga bisa keropos, patah-patah misalnya, tidak bisa dikasih hal-hal lain," ucap Aman.
Terkadang, terhambatnya tinggi badan anak juga tak selalu berkaitan dengan kurangnya nutrisi. Ada banyak faktor lain, misalnya gangguan hormonal, seperti growth hormone deficiency (GHD), small for gestational age (SGA), dan hipotiroidisme.
Aman mengatakan, faktor genetik juga dapat berperan. Salah satunya sindrom Turner yang memiliki prevalensi sekitar 1 banding 1.500-2.000 pada kelahiran bayi perempuan.
"Yang perlu diperhatikan bukan hanya tinggi badan anak pada satu waktu, tetapi bagaimana pertumbuhannya dari waktu ke waktu," kata Aman.
(rti)