Liputan6.com, Jakarta - Rupiah diprediksi bakal tetap berada dalam posisi lemah hingga lima tahun ke depan, meski Bank Indonesia (BI) kelak memasuki era kepemimpinan baru. Ekonom senior, Didik J. Rachbini menilai, pergantian pucuk pimpinan di bank sentral tersebut tidak akan membawa dampak signifikan bagi nilai tukar. Pasalnya, tekanan terhadap rupiah berakar dari masalah struktural ekonomi nasional.
Didik mengungkapkan, besarnya pasar domestik belum mampu menjadi fondasi kokoh bagi penguatan mata uang Garuda karena struktur sektor eksternal Indonesia yang masih rapuh. Meski BI memiliki instrumen moneter untuk menjaga stabilitas, langkah itu dianggap tidak cukup untuk membenahi akar persoalan struktural tersebut.
"Sampai 5 tahun mendatang rupiah tetap tidak akan menguat, akan tetap lemah dan bahkan terus melemah,” tegas Didik J. Rachbini, kepada Liputan6.com di Jakarta, Minggu (30/8/2026).
Selama ini, lanjut Didik, BI sangat mengandalkan instrumen suku bunga untuk meredam gejolak rupiah. Ketika nilai tukar merosot, BI bisa saja mengerek suku bunga demi menarik masuk modal asing. Namun, kebijakan ini berisiko menaikkan biaya kredit, memberatkan cicilan KPR, hingga menghambat arus investasi dalam negeri.
Di sisi lain, opsi menurunkan suku bunga memang sanggup memicu gairah investasi dan roda ekonomi. Sayangnya, jika penurunan dilakukan terlalu cepat, ada risiko pelarian modal (capital outflow) ke aset berdenominasi dolar AS. Oleh sebab itu, Didik menegaskan bahwa kebijakan suku bunga tunggal tidak akan mampu menciptakan rupiah yang berdaya saing.
Ia menyoroti tingginya kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor, membayar utang luar negeri, serta mengover transaksi internasional yang tak sebanding dengan kemampuan ekonomi nasional dalam menghasilkan devisa.
"Untuk menjaga nilai rupiah lebih stabil dan lebih kuat tidak cukup hanya dengan menggunakan instrumen suku bunga,” ujar Didik.