Bupati Banyumas: MPLS Ramah upaya wujudkan sekolah aman dan inklusif

Bupati Banyumas: MPLS Ramah upaya wujudkan sekolah aman dan inklusif

Senin, 13 Juli 2026 11:40 WIB

Image Print

Ketua Yayasan Gerakan Solidaritas Nusantara Teguh Arief Indratmoko didampingi Sekretaris Daerah Banyumas Agus Nur Hadie menyerahkan bantuan Presiden Prabowo Subianto berupa kacamata pintar kepada perwakilan penerima manfaat pada Pembukaan MPLS Ramah di halaman Pendopo Si Panji, Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (13/7/2026). ANTARA/Sumarwoto

Purwokerto (ANTARA) - Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menegaskan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah menjadi upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, serta bebas dari perundungan dan kekerasan terhadap peserta didik baru pada tahun ajaran 2026/2027.

Dalam sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah Banyumas Agus Nur Hadie di halaman Pendopo Si Panji, Purwokerto, Jawa Tengah, Senin, Bupati mengatakan penyelenggaraan MPLS harus meninggalkan praktik perpeloncoan maupun kekerasan verbal dan fisik yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan.

"Sudah tidak ada lagi dan tidak boleh ada lagi kegiatan yang diisi dengan kekerasan verbal, apalagi fisik bagi siswa baru. Cara lama dengan bentakan dan kekerasan sudah sangat ketinggalan zaman," katanya saat membuka MPLS Ramah Tingkat Kabupaten Banyumas Tahun 2026/2027.

Menurut dia, sekolah tidak hanya menjadi tempat mengejar prestasi akademik, juga ruang yang aman dan menyenangkan untuk membentuk karakter, kreativitas, serta kemampuan beradaptasi.

Oleh karena itu, MPLS Ramah diharapkan memberikan pengalaman belajar yang positif sejak hari pertama sekaligus menghormati hak-hak anak.

"Anak-anak kita hidup di era digital yang sangat cepat berubah. Sekolah harus menjadi ruang yang mampu membentuk pelajar yang tangguh, adaptif, dan berkarakter," katanya.

Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, jumlah satuan pendidikan negeri maupun swasta yang menjadi peserta MPLS Ramah mencakup 142 sekolah jenjang SMA/SMK/MA sederajat, 233 sekolah jenjang SMP/MTs sederajat, dan 997 sekolah jenjang SD/MI sederajat.

Dalam pembukaan MPLS tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis bantuan pendidikan dari Presiden Prabowo Subianto yang disalurkan melalui Yayasan Gerakan Solidaritas Nasional (GSN).

Terkait dengan bantuan itu, Ketua Yayasan GSN Teguh Arief Indratmoko mengatakan bantuan yang disalurkan meliputi 250 unit tablet pendidikan, kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI), dan pembangunan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) di sekolah-sekolah yang membutuhkan.

"Bapak Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia memiliki perhatian sangat besar kepada anak-anak didik di sekolah, baik tingkat usia dini sampai perguruan tinggi," katanya.

Ditemui usai acara, dia mengatakan tablet tersebut diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar kelas 1 hingga kelas 3, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan internet.

Menurut dia, perangkat itu telah dilengkapi materi pembelajaran sehingga tetap dapat digunakan tanpa koneksi internet.

"Di dalam tablet sudah ada program-program untuk pembelajaran, sehingga tanpa mengakses internet mereka sudah bisa belajar," katanya.

Ia mengatakan pemerintah juga menyalurkan kacamata pintar berbasis AI bagi anak tunanetra.

Menurut dia, perangkat tersebut mampu membacakan teks buku, mengenali objek di sekitar pengguna, serta mengidentifikasi nominal uang melalui panduan suara sehingga membantu proses belajar.

Selain itu, pemerintah menjalankan program pembangunan fasilitas MCK secara bertahap di sekolah yang sarana sanitasinya belum memadai.

Teguh mengharapkan seluruh bantuan tersebut dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekaligus mendukung tumbuhnya generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

Baca juga: Bupati Banyumas mengajak generasi muda lestarikan tradisi petungan Jawa

Pewarta: Sumarwoto
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.