Beijing (ANTARA) - Pemerintah China menyambut usulan Indonesia soal kolaborasi rantai pasok antarnegara anggota kelompok BRICS.
"China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dengan kualitas yang lebih tinggi dan ketahanan yang lebih kuat," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers di Beijing, Senin.
Guo Jiakun menyampaikan hal tersebut menanggapi pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam pernyataan di sesi kedua KTT ke-18 BRICS di New Delhi pada Minggu (13/9) yang mengajak negara-negara anggota BRICS memperkuat kolaborasi industrialisasi dan rantai pasok global untuk menghadapi tantangan serta menjaga pertumbuhan ekonomi negara berkembang.
"Biarkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber dan kapasitas yang kita tanggung bersama-sama," ujar Prabowo.
Guo Jiakun menyebut, selama bertahun-tahun, BRICS telah secara aktif mendorong kerja sama di bidang industrialisasi.
"Hal itu dibuktikan dengan pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS serta ditandai dengan berbagai hasil nyata," tambah Guo Jiakun.
Indonesia, kata Prabowo, memiliki sumber daya alam yang dapat menjadi modal pembangunan, mulai dari mineral kritis dan logam tanah jarang, sumber energi terbarukan untuk teknologi bersih, dan teknologi tinggi, serta hutan yang menjadi modal pembangunan masa depan.
Prabowo menyebut Indonesia tidak sendirian menghadapi berbagai tantangan tersebut karena negara-negara anggota BRICS dan banyak negara di Global South menghadapi persoalan yang saling berkaitan.
Untuk itu, Prabowo mendorong negara-negara BRICS mengolaborasikan sumber daya, kapasitas produksi, kemampuan teknologi, dan pasar yang dimiliki untuk menghadapi berbagai tantangan secara kolektif.
Prabowo menambahkan kekuatan ekonomi dan sumber daya negara-negara BRICS dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan investasi, memperkuat industri, menciptakan lebih banyak lapangan kerja, serta membuka peluang yang lebih baik bagi masyarakat.
Menurut Prabowo, BRICS telah memiliki sumber daya dan kekuatan ekonomi yang saling melengkapi sehingga berpotensi memperkuat posisi blok tersebut dalam rantai nilai global.
KTT BRICS Ke-18 mengangkat empat pilar utama, yakni ketahanan (resilience), inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan (sustainability) dalam merespons berbagai tantangan global, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik.
Dalam KTT BRICS itu hadir Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan. dan tentu saja Perdana Menteri India Narendra Modi.
Brasil diwakili oleh Menteri Luar Negeri Mauro Vieira, sementara Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.
BRICS juga telah menerima negara-negara mitra ke dalam kerangka kerja sama kelompok tersebut, termasuk Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam.
Saat ini, BRICS terdiri dari 11 negara yaitu Brazil, Cina, Mesir, Ethiopia, India, india, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, dan Uni Emirat Arab yang mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto (PDB) global, dan 26 persen perdagangan global, berdasarkan data yang dikutip BRICS.
Pewarta: Desca Lidya Natalia
Uploader : Rustam Effendi
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.