Cianjur (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, bersama Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dan Polres Cianjur mempercepat pembentukan satuan tugas (satgas) untuk mencegah keberangkatan pekerja migran secara ilegal.
Bupati Cianjur Mohammad Wahyu Ferdian, di Cianjur, Selasa, mengatakan pembentukan satgas guna memberikan perlindungan optimal bagi masyarakat Cianjur yang berniat untuk bekerja di luar negeri terutama mereka yang menjadi korban penipuan melalui proses nonprosedural.
Berbagai upaya akan dilakukan satgas untuk menekan angka pekerja migran asal Cianjur yang berangkat secara nonprosedural termasuk melibatkan aparat desa dalam pendataan, sehingga ke depan tidak ada lagi kasus yang sama menimpa warga Kabupaten Cianjur.
"Pemerintah daerah bersama KP2MI dan Polres Cianjur sudah membahas terbentuknya satgas untuk memperkuat perlindungan terhadap pekerja migran asal Cianjur, di mana di dalamnya dilibatkan berbagai lapisan masyarakat hingga tingkat desa," katanya.
Ketika satgas terbentuk berbagai kegiatan termasuk penyuluhan dan edukasi bagi masyarakat dapat dilakukan termasuk kesiapan yang dibutuhkan untuk bekerja secara prosedural ke luar negeri, sehingga ke depan tidak ada lagi yang berangkat secara ilegal.
Baca juga: BP3MI Jabar perkuat pencegahan keberangkatan pekerja migran ilegal
Dia menjelaskan kasus yang dialami Ai Juariah pekerja migran asal Desa Karangwangi, Kecamatan Ciranjang, menjadi pengingat bahwa masih banyak warga yang tergiur bekerja ke luar negeri melalui jalur nonprosedural.
Pekerja migran yang mengalami permasalahan di Libya itu akhirnya dapat dipulangkan ke Cianjur dan bertemu kembali dengan keluarganya setelah 14 bulan bekerja berganti-ganti majikan sehingga mengalami kekerasan dan upah yang tidak dibayar.
"Ai dipulangkan berkat bantuan Kementerian P2MI, Polres Cianjur, Dinas PPA Provinsi Jabar, Dinas Ketenagakerjaan Cianjur, Kementerian Luar Negeri, dan KBRI di Libya yang menemukan keberadaannya," kata dia.
Ai berangkat ke Libya dengan niat untuk melunasi utang biaya pernikahan anak pertamanya, namun harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga berubah menjadi penderitaan.
“Proses kepulangannya memerlukan perhatian khusus karena negara tempatnya bekerja sedang mengalami konflik, namun alhamdulillah, dengan kerja sama seluruh pihak, Ai akhirnya kembali berkumpul dengan keluarganya di Cianjur," katanya.
Baca juga: P2MI tindak lanjuti kasus PMI Cianjur yang dipulangkan dari Libya
Dia menegaskan, bagi masyarakat yang ingin berangkat bekerja ke luar negeri, dapat mencari informasi ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Cianjur, agar niat baik tidak berubah menjadi petaka karena tergiur gaji besar.
Pewarta: Ahmad Fikri
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.