Dalang muda asal Boyolali usulkan wayang kulit masuk sekolah untuk perkuat pendidikan karakter

Dalang muda asal Boyolali usulkan wayang kulit masuk sekolah untuk perkuat pendidikan karakter

Jumat, 24 Juli 2026 16:10 WIB

Image Print

Ki Gondo Wartoyo saat menjadi narasumber dalam Workshop Penguatan Pembelajaran Berbasis Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan Wilayah V,m di SMAN 1 Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis (23/7/2026). ANTARA/Aris Wasita

Klaten (ANTARA) - Dalang muda asal Desa Tegalgiri, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Ki Gondo Wartoyo mengusulkan agar pelestarian wayang kulit masuk ke dalam kurikulum pendidikan di sekolah untuk memperkuat pendidikan karakter para siswa.

Ki Gondo Wartoyo saat menjadi narasumber dalam Workshop Penguatan Pembelajaran Berbasis Kebudayaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan Wilayah V,m di SMAN 1 Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Kamis berharap agar wayang kulit tidak hanya diwujudkan melalui penyelenggaraan pertunjukan atau event budaya, tetapi juga diintegrasikan ke lingkungan pendidikan.

Menurutnya, tokoh-tokoh wayang perlu dipajang di sekolah sebagai media pembelajaran sekaligus penguatan karakter bagi peserta didik.

Ia juga berharap agar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Pendidikan dapat memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian wayang kulit di lingkungan sekolah.

“Permintaan saya tidak hanya mengadakan event wayang kulit, tetapi juga menghadirkan tokoh-tokoh wayang yang dipajang di sekolah-sekolah agar siswa setiap hari mengenal, memahami, dan mencintai budaya bangsa,” ujarnya.

Menurut dia, budaya merupakan identitas bangsa.

“Tanpa budaya, Indonesia hanya menjadi kumpulan manusia yang tinggal di satu wilayah, bukan sebuah bangsa yang memiliki jati diri. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan peserta didik secara akademik, tetapi juga membentuk karakter melalui nilai-nilai budaya,” katanya.

Pemilik sangggar SKWL ini juga menilai nilai-nilai luhur seperti kejujuran, gotong royong, tanggung jawab, dan rasa hormat dapat ditanamkan melalui pembelajaran berbasis kebudayaan, termasuk dengan mengenalkan tokoh-tokoh wayang kepada para pelajar sejak dini.

“Melestarikan budaya bukan berarti hidup di masa lalu. Justru budaya harus menjadi inspirasi untuk berinovasi, berkarya, dan menghadapi tantangan zaman modern. Generasi muda bukan hanya pewaris budaya, tetapi juga pencipta masa depan budaya,” katanya.

Sementara itu, kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Provinsi Jawa Tengah Basikun, S.Pd., M.M., Kepala Seksi SMA dan SLB Bagus Adiroso, S.H., serta Kepala SMAN 1 Karanganom Masjhur Tjahjanto, S.Pd., M.Pd.

Dalam kesempatan tersebut juga ditampilkan pagelaran wayang kulit yang dibawakan oleh dalang cilik kondang Kalimosodo. Penampilan tersebut semakin semarak dengan iringan suara merdu sinden cilik Dira.

Pementasan ini menjadi wujud nyata penguatan pembelajaran berbasis kebudayaan sekaligus memberikan pengalaman langsung kepada para siswa dalam mengenal dan mencintai seni tradisi wayang kulit.

Melalui kegiatan ini, diharapkan pembelajaran berbasis kebudayaan semakin kuat diterapkan di sekolah, sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap warisan budaya Indonesia, khususnya seni wayang kulit yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia.

Pewarta: Aris Wasita
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.