Tanjab Barat, Jambi (ANTARA) - Dewan kerajinan nasional daerah (Dekranasda) Kabupaten Tanjung Jabung (Tanjab) Barat, Jambi membekali kaum perempuan membuat kerajinan berbahan batok kelapa sehingga bisa mencetak peluang usaha baru.
Bahan baku limbah tempurung kelapa relatif banyak tersedia yang selama ini belum dimanfaatkan dan terbuang sia-sia saja.
"Manfaat pelatihan ini untuk menambah keterampilan, memperluas ilmu pengetahuan, serta membuka lapangan kerja baru," kata Ketua Dekranasda Kabupaten Tanjab Barat Fadhilah Sadat di Kecamatan Bram Itam, Rabu.
Ia mengungkapkan limbah tempurung kelapa yang selama ini kerap dianggap tidak bernilai sehingga belum dimanfaatkan secara maksimal.
Karenanya kini tengah diupayakan disulap menjadi produk aksesoris sehingga bisa menjadi perhiasan bernilai seni tinggi melalui sentuhan kreativitas para perajin lokal.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Dekranasda mulai melatih kaum perempuan di wilayah tersebut melalui kegiatan pembuatan aksesoris berbahan dasar batok kelapa yang digelar di Kantor Kelurahan Bram Itam Kiri, Kecamatan Bram Itam.
Kegiatan itu, menurut dia menjadi salah satu langkah strategis Dekranasda dalam mendorong hilirisasi komoditas kelapa.
Limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.
Dalam pelatihan itu, Dekranasda menghadirkan narasumber perajin lokal berprestasi, yang telah sukses memasarkan kerajinan batok kelapa khas Tanjung Jabung Barat hingga pasar nasional.
Sebanyak 20 orang ibu muda dari Desa Pembengis dan Kelurahan Bram Itam Kiri mengikuti pelatihan dengan antusias, mulai dari proses pemilihan bahan, pembentukan desain, hingga teknik penyempurnaan produk.
Selain keterampilan produksi, peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pengelolaan usaha, pentingnya kemandirian finansial keluarga, hingga akses permodalan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebagai bekal untuk mengembangkan usaha setelah pelatihan.
Pemateri sekaligus penyedia bahan bahan kerajinan Uswatun Hasanah menjelaskan, tren pasar saat ini mulai kembali mengarah pada produk-produk berbahan alami atau back to nature.
Kondisi tersebut membuat perhiasan berbahan batok kelapa semakin diminati, bahkan telah menembus pasar Jakarta.
Menurut Uswatun, salah satu keunggulan produk kerajinan tersebut terletak pada proses akhir yang tidak menggunakan lapisan vernis maupun bahan kimia.
Batok kelapa dipoles secara manual hingga mengeluarkan kilau alami yang menampilkan motif khas tempurung.
Untuk memberikan kesan elegan, batok kelapa dipadukan dengan kawat tembaga berwarna dan tali berkualitas sehingga menghasilkan kalung etnik yang unik dan memiliki daya saing tinggi.
Dari sisi bisnis, peluang usaha ini dinilai cukup menjanjikan. Satu unit kalung etnik dipasarkan dengan harga sekitar Rp150 ribu., sementara biaya produksi diperkirakan berkisar Rp70 ribu per unit. Dengan demikian, keuntungan kotor yang diperoleh dapat mendekati 50 persen.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi para perajin, terutama kenaikan harga bahan pendukung seperti kawat tembaga dan kemasan yang dipengaruhi fluktuasi nilai tukar.
Oleh karena itu, dukungan pemerintah dalam promosi dan pemasaran dinilai sangat penting agar produk lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
"Kita berharap lahir semakin banyak pelaku UMKM kreatif yang mampu mengolah potensi lokal menjadi produk unggulan daerah," ungkapnya.
Pewarta: Agus Suprayitno
Editor : Siri Antoni
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.