Mataram (ANTARA) - Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong rencana pengembangan energi laut atau ocean energy segera masuk tahap implementasi mengingat potensi arus, gelombang, dan pasang surut laut yang besar untuk menghasilkan energi bersih.
Anggota DEN Sripeni Inten Cahyani mengatakan pengembangan energi laut saat ini sudah memasuki tahap perencanaan untuk mendukung target bauran energi nasional dan mulai diperhitungkan untuk 2030.
"Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) punya penelitian dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) juga punya penelitian. Nah inilah yang kami coba dorong masuknya investor," ujar dia saat ditemui usai melakukan sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Mataram (Unram), Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis.
Sripeni menuturkan pemerintah perlu mendorong proyek percontohan energi laut tanpa menjadikan aspek keekonomian sebagai pertimbangan utama saat awal pembangunan.
Ia menilai pengembangan teknologi baru membutuhkan proses dan investasi awal yang besar, sehingga pemerintah perlu memberikan ruang bagi pelaksanaan proyek percontohan agar teknologi dan model pengembangannya dapat terus disempurnakan.
"Soal keekonomian menjadi masalah. Tetapi kalau untuk piloting, menurut saya memang pemerintah harus mendorong keekonomian jangan dinomorsatukan dulu," kata Sripeni.
Lebih lanjut dia mencontohkan rencana pengembangan energi laut di Selat Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, yang batal akibat terkendala nilai keekonomian.
Program pengembangan energi laut membutuhkan pendekatan yang lebih tepat mulai dari penentuan lokasi, teknologi, serta infrastruktur pendukung agar biaya proyek tidak membengkak.
Selat menjadi salah satu wilayah potensial karena arus cenderung lebih kuat pada wilayah yang sempit. Namun, pemanfaatannya juga harus memperhatikan aktivitas pelayaran dan infrastruktur bawah laut.
Meski biaya investasi relatif tinggi, imbuh Sripeni, energi laut memiliki keunggulan lantaran Indonesia memiliki 17.500 pulau dan dua per tiga luas wilayah Indonesia adalah laut.
Potensi laut yang sangat besar tersebut merupakan sumber energi bersih dan dapat menjadi alternatif terhadap penggunaan energi fosil mengingat Indonesia saat ini masih mengimpor bahan bakar minyak.
Baca juga: Pemerintah siapkan "digital single ID"
Teknologi energi laut telah dipakai oleh sejumlah negara, salah satunya Inggris. Biaya pembangkitan energi laut saat ini masih berada pada kisaran 15 hingga 20 sen dolar AS per kilowatt hour (kWh).
"Kami mendorong pemanfaatan energi laut meski mahal di CapEx, tetapi itu adalah energi bersih," pungkas Sripeni.
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026