Mataram (ANTARA) - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Sripeni Inten Cahyani menyebut energi nuklir berpotensi menjadi "kuda hitam" dalam mempercepat proses dekarbonisasi dan pencapaian target netralitas karbon di Indonesia.
"Kalau dulu nuklir adalah opsi terakhir. Sekarang nuklir bukan menjadi opsi terakhir, tetapi nuklir menjadi kuda hitam yang bisa mendorong percepatan terjadinya pencapaian net zero emission," ujar dia saat sosialisasi Kebijakan Energi Nasional di Universitas Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Kamis.
Program pengembangan energi nuklir menjadi semakin relevan lantaran Indonesia membutuhkan sumber energi yang mampu memenuhi permintaan energi industri dan masyarakat sekaligus mendukung upaya mengurangi emisi karbon.
Menurut dia, Indonesia memiliki modal kuat dalam pengembangan teknologi nuklir untuk energi, baik dari sisi sumber daya manusia dan fasilitas penelitian.
Indonesia punya program pendidikan nuklir di Universitas Gadjah Mada (UGM), sementara fasilitas reaktor nuklir di Serpong, Banten, memiliki kapasitas sekitar 30 megawatt untuk kepentingan penelitian.
"Nuklir sudah ada 30 megawatt di Serpong, baik-baik saja, tetapi belum dimanfaatkan sebagai listrik dan baru dalam kapasitas sebagai penelitian," kata Sripeni.
Dalam RUPTL tersebut pengembangan pembangkit nuklir ditargetkan mencapai total 500 megawatt yang masing-masing 250 megawatt pada 2032 dan 250 megawatt pada 2034.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga telah mengidentifikasi 28 lokasi yang berpotensi menjadi tapak pembangkit nuklir. Dari sejumlah lokasi itu pengembangan saat ini lebih difokuskan di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.
Sripeni menegaskan pengembangan nuklir tidak perlu lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan karena pemanfaatan teknologi radiasi telah banyak digunakan dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk layanan rontgen kesehatan.
"Jadi, tinggal bagaimana kita sekarang bersatu untuk Indonesia membangun nuklir. Tanpa nuklir, kita tidak bisa mempercepat penyiapan kebutuhan demand energi yang nantinya exponential dan mempercepat dekarbonisasi," pungkas dia.
Pewarta: Sugiharto Purnama
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.