Di Tengah Besarnya Arus Batu Bara Nasional, KAI Gerakkan 41,61 Juta Ton lewat Jalur Rel

Jakarta (ANTARA) - Batu bara masih menjadi salah satu komoditas dengan arus logistik terbesar di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik mencatat volume ekspor batu bara nasional sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai 201,47 juta ton, dengan rata-rata sekitar 28,8 juta ton per bulan.

Di tengah besarnya pergerakan komoditas tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menjalankan angkutan batu bara berbasis rel di Sumatra. Sepanjang Januari–September 2026, KAI telah mengangkut 41.607.561 ton batu bara.

Volume tersebut setara sekitar 82 persen dari total 50.756.132 ton angkutan barang KAI selama sembilan bulan pertama 2026. Dengan skala tersebut, batu bara menjadi komoditas terbesar dalam portofolio angkutan barang KAI.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan besarnya volume batu bara yang bergerak setiap hari membutuhkan sistem logistik dengan kapasitas yang memadai, pola perjalanan yang teratur, dan konektivitas antara kawasan produksi dengan titik bongkar.

“Lebih dari 41,6 juta ton batu bara telah bergerak menggunakan kereta api hingga September 2026. Angka ini memberikan gambaran mengenai skala logistik yang ditangani KAI, terutama di Sumatra, untuk melayani pergerakan komoditas dalam jumlah besar secara terjadwal,” ujar Anne.

Angkutan batu bara KAI terkonsentrasi di wilayah Sumatra Selatan dan Lampung, melalui operasional Divre III Palembang dan Divre IV Tanjungkarang. Hingga September 2026, dua wilayah tersebut secara keseluruhan membukukan volume 41,61 juta ton.

Skala tersebut berjalan dalam konteks industri nasional yang besar. Berdasarkan BPS, ekspor batu bara Indonesia selama Januari–Juli 2026 berada di kisaran 26,85 juta hingga 29,54 juta ton setiap bulan. Pada Juli saja, volume ekspor batu bara nasional mencapai 29,02 juta ton.

Anne mengatakan data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan batu bara membutuhkan dukungan logistik dari hulu hingga hilir dengan kapasitas yang mampu mengikuti kebutuhan industri.

“Karakter angkutan batu bara membutuhkan kepastian kapasitas dan keteraturan. Di koridor yang dilayani KAI, kereta api memiliki peran untuk membawa volume besar dalam satu rangkaian perjalanan dan menjaga aliran barang dari kawasan produksi menuju titik distribusi berikutnya,” kata Anne.

Pertumbuhan Muncul pada Sejumlah Pelanggan

Di tengah dinamika volume batu bara secara keseluruhan, sejumlah pelanggan angkutan KAI menunjukkan peningkatan sepanjang Januari–September 2026.

Volume angkutan PT Turba Bara Bany Enim meningkat dari 911.612 ton pada 2025 menjadi 2.347.582 ton pada 2026, atau tumbuh 157,5 persen.

Volume PT Mustika Indah Permai naik 32,7 persen, dari 2.721.149 ton menjadi 3.609.664 ton. Sementara volume PT Bukit Bara Alam bertambah sekitar 26 persen, dari 514.316 ton menjadi 647.986 ton.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan kapasitas pada sejumlah pelanggan dan koridor angkutan batu bara di Sumatra.

Secara keseluruhan, volume batu bara KAI hingga September 2026 tercatat 1,48 persen lebih rendah dibandingkan periode yang sama 2025 sebesar 42.234.185 ton. KAI melihat pergerakan tersebut sebagai bagian dari dinamika kebutuhan pelanggan, produksi, serta kondisi industri.

“Kami melihat masing-masing pelanggan dan koridor memiliki dinamika yang berbeda. Karena itu, pengelolaan kapasitas dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, kesiapan sarana dan prasarana, serta keselamatan perjalanan,” ujar Anne.

Rel untuk Arus Komoditas Berskala Besar

Data BPS juga menunjukkan bahwa ekspor Indonesia secara keseluruhan sepanjang Januari–Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, meningkat 4,43 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ekspor nonmigas mencapai US$160,01 miliar atau tumbuh 5,21 persen.

Dalam ekosistem tersebut, ketersediaan jaringan logistik menjadi bagian penting dalam menghubungkan kawasan produksi dengan pusat distribusi dan jalur perdagangan berikutnya.

KAI terus mengelola kapasitas lintas, sarana, prasarana, terminal, serta pola operasi angkutan barang untuk melayani kebutuhan industri dengan tetap menjaga keselamatan perjalanan kereta api.

“Angkutan barang berbasis rel memiliki ruang yang besar untuk terus dikembangkan, terutama pada komoditas dengan volume tinggi dan pola pengiriman yang rutin. KAI akan terus menyesuaikan layanan dengan kebutuhan industri agar kereta api semakin relevan dalam sistem logistik Indonesia,” tutup Anne.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.