Di Tengah Gejolak Geopolitik, Emas Diprediksi Tetap Jadi Primadona Investor

Minggu, 2 Agustus 2026 - 14:46 WIB

Jakarta, VIVA – Emas diperkirakan masih menjadi aset paling diburu investor global pada pekan depan seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS).

Baca Juga

Kondisi tersebut dinilai mendorong bank-bank sentral dunia kembali memperbesar kepemilikan logam mulia sebagai instrumen lindung nilai (safe haven).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga emas dunia (XAU) diperkirakan bergerak dalam rentang yang relatif tinggi sepanjang pekan depan. Menurutnya, emas masih memiliki ruang penguatan di tengah meningkatnya risiko global.

Baca Juga

“Kalau untuk XAU sendiri, ya saya melihat bahwa XAU kemungkinan besar akan diperdagangkan dalam sepekan itu di level US$3.836 per troy ounce, kemudian resisten-nya di US$4.290 per troy ounce. Kemudian secara jangka pendek, ya, kemungkinan besar support-nya itu di US$3.990 per troy ounce, kemudian resisten-nya di US$4.132 per troy ounce,” kata Ibrahim kepada tvOnenews.com, Minggu 2 Agustus 2026.

Untuk harga logam mulia di dalam negeri, Ibrahim memperkirakan pergerakannya juga tetap berada pada level tinggi.

Baca Juga

“Kemudian untuk logam mulia sendiri, kemungkinan besar dalam minggu depan, ya logam mulia itu akan ditransaksikan di support Rp2.410.000 per gram, kemudian resisten-nya di Rp2.720.000 per gram. Nah, secara jangka pendek, kemungkinan support-nya di Rp2.580.000 per gram, kemudian resisten-nya di Rp2.623.000 per gram,” ujarnya.

Ibrahim menjelaskan, fluktuasi harga emas dipengaruhi sejumlah faktor utama, mulai dari perkembangan geopolitik, dinamika politik di Amerika Serikat, kebijakan bank sentral AS, hingga keseimbangan pasokan dan permintaan global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Apa yang membuat emas dan logam mulia berfluktuasi? Ada beberapa faktor yang mempengaruhi, salah satunya adalah masalah geopolitik, perpolitikan di Amerika, kemudian kebijakan Bank Sentral Amerika, kemudian yang terakhir adalah supply dan demand,” katanya.

Menurut Ibrahim, eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi faktor yang paling diperhatikan pelaku pasar. Laporan mengenai potensi serangan besar-besaran Amerika Serikat dan Israel terhadap infrastruktur energi Iran dinilai dapat memperburuk ketidakpastian global, terlebih setelah Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan apabila aksi militer tersebut benar-benar terjadi.

Halaman Selanjutnya

Di saat yang sama, ketegangan juga meningkat akibat blokade Laut Merah oleh Houthi Yaman serta terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia. Di kawasan Eropa Timur, konflik Rusia-Ukraina juga terus memanas setelah terjadi saling serang yang memperburuk situasi keamanan regional.