Dinkes Karawang sebut asus ISPA tembus 3.876 kasus pada musim kemarau - ANTARA News Megapolitan

Karawang (ANTARA) - Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Jawa Barat menyebutkan kasus penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) cukup tinggi pada musim kemarau di daerah itu, yakni mencapai 3.876 kasus.

"Gejala ISPA ini umumnya demam, batuk, pilek, meriang dan tubuh terasa lemas," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Karawang Yayuk Sri Rahayu di Karawang, Minggu.

Ia menyampaikan jika masyarakat mengalami gejala tersebut diimbau untuk segera beristirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan dan mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Penyebab penyakit ISPA ialah virus influenza. Virus ini terdiri atas beberapa tipe, di antaranya tipe A, B, C dan D.

"Hal yang perlu kita waspadai adalah penularannya, karena influenza dapat dengan cepat menular dari manusia ke manusia," katanya.

Pada musim kemarau seperti saat ini, kondisi udara yang kering dan berdebu cukup mudah membuat iritasi saluran pernapasan.

Menurut dia, penularan influenza terjadi melalui droplet yang keluar saat orang terinfeksi berbicara, batuk, bersin hingga bernyanyi. Virus juga dapat berpindah melalui kontak dengan benda yang telah terkontaminasi.

Sepanjang musim kemarau ini kasus ISPA di Karawang cukup tinggi, hingga kini tercatat 3.876 kasus. Bahkan berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon, sempat terjadi kenaikan kasus ISPA sekitar 500 kasus dalam sepekan.

Yayuk mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ISPA, karena virus influenza dapat menular dengan cepat, terutama melalui percikan droplet dari orang yang terinfeksi.

Di antara upaya untuk melakukan pencegahan ini ialah dengan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer.

"Masyarakat yang mengalami keluhan dan membutuhkan penanganan diimbau busa segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat," katanya.

Pewarta: M.Ali Khumaini
Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.