Mataram (ANTARA) - Dinas Pertanian Kota Mataram Provinsi Nusa Tenggara Barat memastikan pasokan sapi hidup untuk memenuhi kebutuhan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah/2026, di kota itu aman dan mencukupi meski permintaan meningkat.
"Untuk memenuhi kebutuhan, pasokan sapi hidup terus kami datangkan secara rutin melalui izin rekomendasi, salah satunya dari Kabupaten Sumbawa," kata Kepala Bidang Peternakan pada Dinas Pertanian (Distan) Kota Mataram Lalu Hapiludin di Mataram, Kamis.
Dalam kondisi normal, rekomendasi pengiriman sapi mencapai sekitar 100 ekor per minggu, namun pada hari-hari besar biasanya ditambah menjadi 150 ekor. Jumlah itu, belum termasuk ternak lokal dari kabupaten penyangga.
Peningkatan aktivitas pemotongan diperkirakan mulai melonjak signifikan setelah memasuki pertengahan bulan Maulid yakni mulai tanggal 12 Rabiul Awal 1448 H atau 25 Agustus 2026.
Jika pada hari-hari normal, pemotongan sapi di dua Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Mataram berada di kisaran 35 hingga 40 ekor per hari, maka jumlah itu meningkat saat puncak perayaan Maulid dan diprediksi naik hingga 50 sampai 60 ekor per hari.
Peningkatan pemotongan ini dipicu oleh tingginya permintaan untuk tradisi perayaan Maulid terutama di beberapa wilayah tertentu di Kota Mataram yang menggelar perayaan Maulid secara besar-besaran, seperti di kawasan Sekarbela dan Dasan Agung.
Baca juga: Distan Mataram memperketat pengawasan pemotongan unggas mandiri
Kondisi itu berdampak pada kenaikan harga daging yang biasanya Rp135.000-Rp140.000 per kilogram menjadi Rp150.000-Rp160.000 per kilogram.
"Dalam kondisi seperti itu, kami tidak bisa intervensi penuh karena terjadi hukum pasar. Pemintaan meningkat maka harga naik," katanya.
Tapi untuk membantu menjaga stabilitas pasokan, Dinas Pertanian Kota Mataram juga rutin mengeluarkan izin rekomendasi pemasokan daging beku baik daging sapi maupun ayam dari luar daerah.
Setiap pelaku usaha atau perusahaan rata-rata mengajukan kuota pengiriman daging beku sekitar 5 hingga 7 ton sesuai kapasitas alat angkut kontainer pendingin.
Meski demikian, pengadaan daging beku tersebut utamanya difokuskan untuk memenuhi kebutuhan sektor Horeka (hotel, restoran dan kafe) serta industri olahan.
Di sisi lain, tambahnya, minat masyarakat akan daging beku relatif kurang sehingga masyarakat cenderung membeli daging sapi maupun ayam segar langsung di pasar-pasar tradisional meskipun harganya lebih mahal.
"Masyarakat yang beli daging beku ada, tapi sedikit dan kebanyakan memilih daging segar," katanya.
Apalagi, daging beku juga tidak boleh dijual bebas di pasar tradisional yang tidak memiliki fasilitas pendingin sebab daging beku harus tetap dijual dalam kondisi beku.
"Jika di jual dalam kondisi tidak beku, dikhawatirkan bisa memicu bakteri," katanya.
Pewarta : Nirkomala
Editor:
I Komang Suparta
COPYRIGHT © ANTARA 2026