Nabire (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Nabire, Papua Tengah, melibatkan sekolah tingkat SD hingga SMP dalam pengelolaan sampah plastik melalui pembinaan Sekolah Adiwiyata dan pembentukan bank sampah.
Kepala DLH Kabupaten Nabire Arfan Natan Palumpun, di Nabire, Rabu, mengatakan program tersebut diarahkan untuk membentuk kebiasaan siswa menjaga lingkungan sekaligus mengurangi sampah plastik yang berakhir sebagai limbah.
“Kami telah membangun relasi dan membina sekolah-sekolah seluruh yang ada di Kabupaten Nabire, mulai dari SD hingga SMP,” katanya.
Ia mengatakan, DLH membina sekolah agar pengelolaan lingkungan menjadi bagian dari pembelajaran, termasuk melalui kurikulum muatan lokal maupun kegiatan pendidikan lainnya.
Setiap sekolah binaan diarahkan memiliki bank sampah unit untuk mengumpulkan sampah plastik, terutama botol bekas yang masih memiliki nilai ekonomi.
Sampah yang dikumpulkan siswa untuk sementara dicatat dalam buku tabungan berdasarkan beratnya. Mekanisme tersebut diterapkan karena DLH belum memiliki anggaran untuk membayar langsung sampah plastik yang disetorkan.
DLH sedang menjajaki kerja sama dengan sejumlah perusahaan dan pengusaha yang dapat menampung limbah plastik dari Nabire untuk dipasarkan ke Surabaya dan Jakarta.
Menurutnya, pemasaran sampah plastik ke luar Papua masih menghadapi kendala biaya pengiriman. Pengiriman menggunakan kontainer baru dinilai memungkinkan jika volume sampah mencapai sekitar enam hingga tujuh ton.
“Yang menjadi masalah kami selama ini adalah biaya pengiriman kontainer. Itu yang menjadi kendala para pengusaha di sini yang pernah mencoba melakukan pengiriman limbah botol plastik,” ujarnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, DLH juga menyiapkan konsep bank sampah induk yang akan menampung sampah dari bank sampah unit, termasuk yang dibentuk di sekolah dan lingkungan masyarakat.
Bank sampah induk nantinya diharapkan dapat melakukan pengepresan atau pencacahan sampah sebelum dikirim ke luar Papua sehingga volume limbah lebih efisien dan biaya pengangkutan dapat ditekan.
Ia menilai ketersediaan sampah plastik di Nabire cukup besar untuk mendukung sistem tersebut. Tantangannya adalah membangun jaringan pengumpulan, pengolahan, dan pemasaran yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
Program Sekolah Adiwiyata juga diarahkan agar pendidikan lingkungan masuk dalam pembelajaran sehingga siswa tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi memahami pentingnya pemilahan dan pengelolaan sampah sejak dari sekolah.
Pengolahan sampah plastik menjadi prioritas seiring meningkatnya volume sampah di Nabire setelah daerah itu menjadi ibu kota Provinsi Papua Tengah.
Menurut dia, volume sampah yang sebelumnya sekitar 70 ton per hari kini meningkat menjadi sekitar 80 hingga 100 ton per hari.
"Sejak Nabire menjadi ibu kota provinsi baru, laju urbanisasi meningkat pesat. Volume sampah yang dulu sekitar 70 ton per hari sekarang meningkat menjadi 80 hingga 100 ton per hari," katanya.
Pewarta: Ali Nur Ichsan
Editor : Evarianus Supar
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.