Selular.ID – XLSmart disebut-sebut berhasil meningkatkan kualitas layanan serta kapasitas jaringannya.
Shurish Subbramaniam. Direktur dan Chief Technology Officer (CTO) XL Smart, menjelaskan keberhasilan ini diraih berkat strategi integrasi infrastruktur pascamerger antara XL Axiata dan Smartfren.
Mencakup penataan ulang menara pemancar, penggabungan spektrum frekuensi, serta penerapan arsitektur jaringan common core.
“Langkah konsolidasi teknologi ini berdampak langsung pada peningkatan kecepatan transfer data (throughput) dan penurunan tingkat latensi bagi seluruh pengguna di Indonesia,”ujar Shurish.
Dikatakan Shurish bahwa pilar utama dari transformasi kualitas jaringan ini adalah perencanaan ulang infrastruktur (network replanning) secara terukur.
Tim teknis melakukan pemetaaan dan pemilahan menara pemancar terbaik dari kedua entitas awal guna menciptakan jangkauan sinyal yang mulus (seamless coverage).
Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda
Selain optimasi lokasi menara, perusahaan juga memfokuskan penggabungan seluruh alokasi spektrum frekuensi untuk menghadirkan kapasitas pita gelombang yang jauh lebih besar dan responsif.
Langkah strategis lainnya terletak pada alokasi jalur frekuensi secara terpisah (dedicated capacity) untuk teknologi 4G LTE dan 5G.
Dengan pemisahan alokasi ini, layanan 4G tetap terjaga stabilitasnya.
Sementara jaringan 5G memiliki ruang khusus yang dapat dioptimalkan secara mandiri tanpa membebankan lalu lintas data antar-generasi teknologi.
Penggabungan seluruh infrastruktur tersebut didukung oleh penyederhanaan arsitektur jaringan menjadi common core untuk memperluas jangkauan operasional di berbagai daerah.
Integrasi Jaringan XLSmart
Dalam proses konsolidasi jaringan pascamerger, XL Smart menerapkan tiga strategi teknis utama guna memastikan pengalaman konektivitas pengguna berjalan optimal.
Pendekatan pertama berfokus pada seleksi dan penataan ulang posisi menara Base Transceiver Station (BTS).
Dengan memilih lokasi menara yang saling melengkapi dari infrastruktur XL dan Smartfren, tingkat area tanpa sinyal (blank spot) dapat diminimalkan secara efektif.
Pilar kedua adalah penggabungan spektrum frekuensi secara menyeluruh melalui integrasi multi-protokol. Langkah ini memperluas kapasitas trafik data yang dapat ditampung oleh satu stasiun pemancar.
Sementara pilar ketiga adalah pemisahan kapasitas antara jaringan 4G dan 5G. Pemisahan ini menjamin kualitas bandwidth jaringan 4G tetap prima di tengah percepatan adopsi teknologi 5G yang membutuhkan ruang frekuensi tersendiri.
Penyederhanaan arsitektur menuju sistem common core turut mempercepat efisiensi transmisi data antarwilayah.
Integrasi sistem inti ini membuat manajemen lalu lintas data menjadi lebih linear, hemat konsumsi daya, serta mempermudah ekspansi kapasitas menara sewaktu-waktu jika terjadi lonjakan pemakaian oleh pelanggan di lokasi tertentu.
Dampak Integrasi terhadap Performa dan Pengalaman Pelanggan
Integrasi jaringan dalam waktu singkat ini memberikan dampak langsung terhadap indikator performa utama (Key Performance Indicators/KPI) telekomunikasi XLSmart.
Peningkatan kapasitas throughput yang tersedia memungkinkan konsumen mengakses konten beresolusi tinggi dan mentransfer data berukuran besar secara jauh lebih cepat dibandingkan sebelum proses merger berlangsung.
Dari sisi teknis, penurunan tingkat latensi atau jeda pengiriman data menjadi faktor kunci dalam meningkatkan responsivitas koneksi.
Latensi yang lebih rendah memberikan pengalaman akses yang jauh lebih lancar untuk berbagai aplikasi berbasis waktu nyata (real-time), seperti panggilan video, transaksi finansial digital, hingga aktivitas komputasi awan.
Sinergi antara perencanaan spektrum yang matang, konsolidasi menara pemancar, dan implementasi teknologi common core menjadikan infrastruktur XL Smart lebih siap menghadapi lonjakan trafik data di masa depan.
Baca Juga:XLSmart Lumpuhkan Sinyal Lemot Lewat Modal Rp1,29 Triliun
Keberhasilan integrasi ini sekaligus memperkuat posisi XL Smart dalam menghadirkan standar baru kualitas layanan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia.