Padang (ANTARA) - Lingkungan pesantren yang bersih dan sehat penting untuk mendukung kenyamanan belajar dan kesehatan santri. Aktivitas harian yang padat juga menghasilkan sampah organik maupun anorganik yang membutuhkan pengelolaan secara tepat.
Kurangnya pengetahuan mengenai pemilahan sampah dan kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat memengaruhi kebersihan lingkungan. Kondisi sanitasi yang kurang baik juga berpotensi meningkatkan risiko berbagai penyakit berbasis lingkungan.
Atas dasar tersebut, tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Baiturrahmah melaksanakan program “Edukasi Pemilahan Sampah Organik dan Anorganik sebagai Upaya Mewujudkan Lingkungan Bersih dan Sehat di Pesantren Tarbiyah Islamiyah”. Tim diketuai Hilda Hidayat, S.KM., M.Kes., bersama Nirmala Sari, S.ST., M.Keb., Putri Engla Pasalina, S.ST., M.Keb., Novia Zulfa Hanum, SKM., MKM., Sri Mindayani, SKM., M.Kes., Hary Budiman, SKM., M.Kes., Yulianita, SS., M.Hum., dan Rima Wirenviona. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Ainin Sovia Siregar dan Hayati Nufus.
Kegiatan dilaksanakan pada Sabtu, 12 September 2026 di Pesantren Tarbiyah Islamiyah Padang dengan sasaran para santri. Program ini diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan santri dalam memilah sampah organik dan anorganik sekaligus membangun kebiasaan menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan pesantren.
Berdasarkan identifikasi awal, masih ditemukan sejumlah persoalan dalam pengelolaan sampah di lingkungan pesantren. Di antaranya rendahnya pengetahuan dan kesadaran santri mengenai pemilahan sampah, kebiasaan membuang sampah sembarangan, belum tersedianya fasilitas tempat sampah yang memenuhi standar kesehatan, serta belum optimalnya sistem pengelolaan sampah.
Dalam pelaksanaannya, santri diberikan edukasi mengenai pengertian dan jenis sampah organik dan anorganik, dampak sampah terhadap kesehatan dan lingkungan, cara pemilahan sampah yang benar, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta prinsip reduce, reuse, recycle atau 3R.
Tim PkM juga mengenalkan berbagai jenis sampah yang dekat dengan aktivitas sehari-hari santri. Sisa makanan dan daun menjadi contoh sampah organik, sedangkan plastik, botol minuman, dan kemasan makanan termasuk sampah anorganik yang perlu dipisahkan dalam proses pembuangan dan pengelolaannya.
Edukasi dilakukan melalui ceramah interaktif, diskusi kelompok, pemutaran video edukasi, simulasi pemilahan sampah, serta praktik langsung membuang sampah sesuai jenisnya. Pendekatan tersebut membuat santri tidak hanya menerima pengetahuan secara teoritis, tetapi juga memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan pemilahan sampah.
Praktik pemilahan menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan. Melalui simulasi dan pendampingan, santri dilatih membedakan sampah organik dan anorganik sebelum memasukkannya ke tempat sampah yang sesuai. Pembiasaan tersebut diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari di pesantren.
Program PkM turut diperkuat dengan penyediaan fasilitas tempat sampah terpilah untuk sampah organik dan anorganik. Tempat sampah yang disediakan dirancang memiliki penutup, tidak mudah bocor, mudah dibersihkan, serta dibedakan menggunakan warna dan label untuk memudahkan santri mengenali jenis sampah.
Tempat sampah tersebut dapat ditempatkan pada titik strategis di lingkungan pesantren, seperti asrama, halaman, area kantin, dan ruang belajar. Penyediaan sarana ini menjadi bagian penting untuk menjembatani pengetahuan yang diperoleh melalui edukasi dengan penerapan kebiasaan memilah sampah dalam aktivitas sehari-hari.
Selain sarana pemilahan sampah, tim menyiapkan media edukasi berupa poster, spanduk, leaflet, dan stiker yang berisi pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya. Media tersebut dapat ditempatkan di sejumlah lokasi strategis agar pesan kesehatan lingkungan terus menjadi pengingat bagi santri.
Pemahaman santri dievaluasi melalui pre-test dan post-test. Evaluasi program juga mencakup observasi terhadap perubahan perilaku santri dalam membuang sampah, kondisi kebersihan lingkungan, serta penggunaan sarana tempat sampah terpilah untuk melihat keberhasilan penerapan program.
Keberlanjutan kegiatan diperkuat melalui pembentukan kader atau kelompok kebersihan santri. Kader diarahkan untuk mengawasi kebersihan lingkungan, mengingatkan santri membuang sampah pada tempatnya, memantau penggunaan tempat sampah, serta menjadi penggerak kegiatan gotong royong kebersihan di lingkungan pesantren.
Program juga diarahkan agar budaya menjaga kebersihan terus berjalan setelah kegiatan PkM selesai melalui pembentukan kader kebersihan secara permanen, penyusunan jadwal piket, penyerahan sarana tempat sampah kepada pihak pesantren, pendampingan lanjutan, serta integrasi edukasi kebersihan dalam kegiatan rutin pesantren.
Melalui kegiatan ini, tim PkM Unbrah berupaya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan santri dalam membedakan serta memilah sampah organik dan anorganik. Pembiasaan tersebut diharapkan menumbuhkan kepedulian dan tanggung jawab bersama sekaligus membentuk budaya PHBS menuju lingkungan pesantren yang lebih bersih, sehat, dan nyaman.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini mendukung pencapaian SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Program PkM ini didanai oleh Yayasan Pendidikan Baiturrahmah melalui alokasi anggaran Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Baiturrahmah.*
