Ekonomi RI Dapat 3 Kabar Baik di Awal Kuartal IV 2026, Apa Saja?

AKURAT.CO Sejumlah indikator ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan memasuki kuartal IV 2026.

Inflasi September masih berada dalam sasaran, neraca perdagangan kembali mencatat surplus besar, sementara aktivitas manufaktur kembali masuk zona ekspansi setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.

Tiga indikator tersebut menjadi gambaran terbaru kondisi perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global.

Namun, perbaikan itu juga diikuti sejumlah pekerjaan rumah, terutama menjaga harga pangan, memperkuat ekspor, serta memastikan pemulihan manufaktur berlanjut hingga akhir tahun.

Baca Juga: BPS: Neraca Dagang RI Surplus USD7,25 Miliar

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi September 2026 sebesar 3,28% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional 2,5% plus-minus 1%. Inflasi inti juga relatif terkendali di level 2,84% yoy.

Meski demikian, tekanan harga pangan masih perlu diperhatikan. Inflasi volatile food (VF) tercatat sebesar 5,03% yoy, antara lain dipengaruhi dinamika permintaan serta penurunan produksi sejumlah komoditas hortikultura akibat cuaca ekstrem, El Nino, dan bencana alam.

Pemerintah kemudian menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga daya beli masyarakat hingga akhir tahun.

Kebijakan tersebut mencakup penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III, bantuan pangan beras 10 kilogram per bulan pada Oktober-Desember 2026, serta percepatan penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium melalui Perum Bulog.

Stabilitas pasokan juga diperkuat melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), penguatan Cadangan Beras Pemerintah (CBP), dan optimalisasi Kerja Sama Antar Daerah (KAD).

Baca Juga: Cak Imin Minta Pemda dan BPS Jateng Selesaikan Sinkronasi Data Kemiskinan dalam Sepekan

Dari sisi produksi dan distribusi, pemerintah juga mendorong efisiensi biaya logistik serta mengantisipasi tekanan harga dari luar negeri.