Empat Poin Penting dari Dominasi Spanyol atas Prancis yang Antar La Roja ke Final Piala Dunia 2026

Poin penting penentu kemenangan Spanyol atas Prancis

Spanyol tampil nyaris tanpa cela saat menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0 pada semifinal Piala Dunia 2026 di AT&T Stadium, Rabu dini hari WIB. Skor akhir memang hanya terpaut dua gol, tetapi jalannya pertandingan menunjukkan betapa dominannya La Roja sepanjang 90 menit.

Kemenangan itu mengantar tim asuhan Luis de la Fuente ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya dalam 16 tahun. Mereka juga memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi 37 pertandingan, menyamai catatan tim nasional Italia.

Gol pertama lahir pada menit ke-22 melalui penalti Mikel Oyarzabal setelah Lucas Digne melakukan pelanggaran di kotak terlarang. Spanyol kemudian memastikan kemenangan lewat penyelesaian Pedro Porro setelah rangkaian kerja sama tim yang menjadi salah satu gol terbaik sepanjang turnamen.

Prancis sempat menambah jumlah pemain menyerang pada babak kedua. Namun, justru Spanyol yang beberapa kali lebih dekat mencetak gol ketiga.

Mikel Oyarzabal Terus Pecahkan Rekor

Nama Lamine Yamal sempat diperkirakan akan menjadi algojo penalti yang didapat Spanyol. Namun, Mikel Oyarzabal mengambil tanggung jawab tersebut dan menuntaskannya dengan sepakan keras ke sisi gawang.

Gol itu menjadi gol kelima Oyarzabal di Piala Dunia 2026. Catatan tersebut menyamai rekor David Villa pada 2010 dan Emilio Butragueño pada 1986 sebagai pemain Spanyol dengan gol terbanyak dalam satu edisi Piala Dunia.

BACA JUGA:

Tak berhenti sampai di situ. Gol ke gawang Prancis juga menjadi gol ke-14 Oyarzabal bersama tim nasional Spanyol sepanjang periode 2025-26. Ia kini melewati rekor David Villa yang sebelumnya mengoleksi 13 gol pada musim internasional 2008-09.

Oyarzabal mungkin bukan penyerang yang paling mencolok secara gaya bermain. Namun kecerdasannya membaca ruang dan naluri mencetak gol kembali menjadi pembeda bagi Spanyol.

Rodri Kembali Mengingatkan Kualitas Peraih Ballon d’Or

Panggung Piala Dunia 2026 banyak dihiasi para penyerang bintang. Namun saat menghadapi Prancis, Rodri justru menjadi sosok yang mengendalikan permainan dari lini tengah.

Gelandang Manchester City itu sukses membatasi pengaruh Michael Olise sejak awal pertandingan. Olise beberapa kali terpaksa turun lebih dalam atau bergeser ke sisi kanan karena kesulitan menemukan ruang.

Situasi tersebut ikut memengaruhi Ousmane Dembele. Peraih Ballon d’Or itu berkali-kali bergerak ke area tengah, tetapi tetap kesulitan keluar dari tekanan Rodri.

Setelah dua musim terakhir sering diganggu cedera, Rodri kembali menunjukkan performa yang membuatnya pernah dinobatkan sebagai pemain terbaik dunia. Melawan Prancis, ia lagi-lagi menjadi pengatur tempo sekaligus tembok pertama pertahanan Spanyol.

Pau Cubarsi dan Aymeric Laporte Jadi Tembok Kokoh

Sebelum pertandingan, perhatian banyak tertuju pada bagaimana Spanyol akan menghentikan lini depan Prancis yang telah mencetak 16 gol sepanjang turnamen.

Jawabannya ternyata sederhana. Pau Cubarsi dan Aymeric Laporte membuat para penyerang Prancis nyaris tak berkutik.

Di hadapan Sergio Ramos dan Carles Puyol yang menyaksikan langsung dari tribun, duet bek tengah Spanyol tampil sangat tenang sepanjang pertandingan. Prancis hanya membukukan expected goals sebesar 0,30 dan baru mampu mencatatkan tiga tembakan tepat sasaran setelah menit ke-80, termasuk dua pada masa injury time.

Secara keseluruhan, Cubarsi dan Laporte membukukan 13 aksi bertahan dalam laga ini. Keduanya juga berperan besar dalam membangun serangan dari belakang, termasuk pada proses gol kedua yang diawali keberanian lini belakang Spanyol melewati tekanan tinggi Prancis.

Keraguan terhadap lini belakang Spanyol sebelum turnamen kini perlahan menghilang. Hingga mencapai final, La Roja baru kebobolan satu gol dalam tujuh pertandingan.

Tim Terbaik Akhirnya Melangkah ke Final

Keberhasilan Spanyol bukan semata karena memiliki pemain-pemain kelas dunia. Luis de la Fuente berhasil membentuk tim yang setiap pemainnya memahami peran masing-masing.

Pedro Porro, yang sempat berada di pinggiran skuad tim nasional, kini mencetak gol penting sekaligus tampil solid saat menghadapi Bradley Barcola dan Désiré Doué.

Dani Olmo juga kembali memperlihatkan kualitasnya di bawah arahan De la Fuente. Umpannya kepada Porro menjadi salah satu momen terbaik pertandingan.

Menariknya, Spanyol tetap tampil dominan meski Lamine Yamal hanya sukses melewati satu dribel, Pedri memulai laga dari bangku cadangan, dan Nico Williams baru dimainkan pada 10 menit terakhir.

Sorakan “Olé! Olé!” yang menggema dari tribun saat Spanyol menguasai bola menjadi gambaran betapa mereka mengendalikan pertandingan. Pada momen itu, Prancis nyaris tidak memiliki jawaban.

Opini Gilabola.com

Spanyol tidak hanya mengalahkan Prancis, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sebuah tim bisa menang lewat organisasi permainan yang matang.

Ketika banyak negara bertumpu pada kualitas individu, La Roja justru membuktikan bahwa kolektivitas, kedalaman skuad, dan disiplin taktik masih menjadi senjata paling ampuh di level tertinggi.

Jika performa seperti ini berlanjut di final, Spanyol layak disebut sebagai kandidat terkuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026.

Dapatkan berita dengan ulasan mendalam, serta kabar terbaru hanya di Gilabola.com.

  • TAGS
  • Aymeric Laporte
  • Mikel Oyarzabal
  • Pau Cubarsi
  • Rodri
  • Timnas Spanyol