REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Merebaknya perzinaan dan berbagai perbuatan keji disebut sebagai salah satu gambaran kondisi manusia pada akhir zaman. Dalam sejumlah hadits, Rasulullah SAW menggambarkan keadaan ketika perzinaan dilakukan secara terang-terangan hingga di tengah jalan dan tidak ada seorang pun yang mencegahnya.
Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menegaskan banyaknya perzinaan dan kekejian merupakan bukti jauhnya manusia dari agama mereka. Sebab, Islam telah memerintahkan untuk menjauhi zina dan mengharamkannya, serta mengkategorikannya sebagai dosa besar yang pelakunya wajib masuk neraka jika tidak bertobat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Wa lā taqrabuz-zinā innahū kāna fāḥisyah(tan), wa sā'a sabīlā(n).
Janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya (zina) itu adalah perbuatan keji dan jalan terburuk. (QS Al-Isra Ayat 32)
Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam bukunya Asyratus Sa'ah Al-Hasyru Wa Qiyamus Sa'ah menjelaskan, pada akhir zaman, tindakan ini akan sampai pada seorang wanita digauli pada siang hari secara terang-terangan di tengah jalan. Tidak ada orang yang mencegah perbuatan keji ini karena minimnya agama dan ketakwaan. Bisa dikatakan orang yang hidup pada zaman itu tidak mengetahui sedikit pun tentang agama atau tidak mengetahui sedikit pun yang namanya takwa, malu, dan wara.
Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Kiamat tidak akan terjadi hingga tidak tersisa di atas bumi ini seseorang yang butuh kepada Allah. Serta hingga didapati seorang wanita pada siang hari dengan terang-terangan disetubuhi di tengah-tengah jalan, dan tidak ada seorang pun yang mengingkari dan mengubah hal itu. Sehingga orang yang paling baik di antara mereka pada hari itu ialah yang mengatakan, 'Seandainya aku bisa menyingkirkannya dari tengah jalan sedikit saja,' orang yang ada di tengah-tengah mereka itu ialah seperti Abu Bakar dan Umar di tengah-tengah kalian." (HR Imam Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)