Jakarta (ANTARA) - Pertandingan tanpa beban yang mengasyikan untuk disaksikan akhirnya dimenangkan Inggris, tetapi Prancis terlihat tak begitu kecewa oleh kekalahan ini.
Laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami, Florida, Amerika Serikat, pada Minggu pukul 04.00 dini hari WIB antara Inggris dan Prancis itu berakhir dengan skor fantastis 6-4.
Inggris boleh berbangga karena menuntaskan Piala Dunia 2026 dengan finis terbaik sejak 1966, ketika mereka menjadi juara dunia.
Setelah dua kali gagal memenangkan pertandingan perebutan tempat ketiga pada Piala Dunai 1990 dan 2018, Three Lions akhirnya menuntaskan petualangan mereka di turnamen ini dengan menempati peringkat ketiga, pencapaian yang untuk pertama kalinya mereka raih.
Drama sepuluh gol itu juga sepertinya tidak terlalu mengecewakan Prancis, karena Kylian Mbappe kini berada di pacuan terdepan untuk memenangkan Sepatu Emas, atau Golden Boot.
Jika dia berhasil mendapatkannya, maka itu akan yang kedua kalinya bagi Mbappe setelah Piala Dunia 2022.
Mbape kini sudah mencetak 10 gol, dua gol lebih banyak dari pada Lionel Messi yang sudah mencetak 8 gol dan baru akan bermain Senin dini hari nanti dalam final melawan Spanyol.
Pemain berusia 27 tahun itu menjadi pesepak bola putra pertama yang mencetak dua digit gol dalam Piala Dunia sejak Gerd Muller pada Piala Dunia 1970.
Mbappe juga, untuk sementara, menjadi pencetak gol Piala Dunia terbanyak sepanjang masa, dengan 22 gol yang sudah dia ciptakan dari hanya tiga edisi Piala Dunia.
Sepuluh golnya ini akan membuat tugas Lionel Messi sulit untuk menyamainya, karena Argentina akan menghadapi tim yang sejauh ini paling sulit dibobol, Spanyol, dalam final di East Rutherford, Amerika Serikat, Senin (20/7) pukul 02.00 WIB.
Pelatih Didier Deschamps mungkin kecewa tak bisa menutup tirai kepelatihannya dengan medali Piala Dunia, tapi dia tetap senang bisa menyaksikan Mbappe dianugerahi Golden Boot, jika Messi hanya mencetak satu gol atau bahkan gagal menjebol gawang Spanyol dalam final di New Jersey esok.
Deschamps juga senang salah satu pemainnya yang lain, playmaker Bayern Muenchen, Michael Olise, sukses memecahkan rekor assist dalam satu Piala Dunia yang selama ini dipegang legenda Brasil, Pele.
Olise membuat dua assist untuk dua gol Mbappe dalam laga melawan Inggris ini. Dengan begitu, dia membuat total tujuh assist selama Piala Dunia 2026, melebihi rekor enam assist Pele.
Rekor assist yang dibuat legenda Brasil itu tercipta pada Piala Dunia 1970, sehingga baru terpecahkan Olise setelah 56 tahun tak ada yang bisa memecahkannya.
Semua bahagia
Pelatih Inggris Thomas Tuchel mungkin lebih gembira daripada pelatih Prancis, Didier Deschamps, yang pernah mengantarkan Les Bleus menjuarai Piala Dunia 2018 dan menjadi runner-up pada 2022.
Tuchel menjadi pelatih pertama yang mengantarkan Inggris menuntaskan turnamen Piala Dunia di peringkat ketiga.
Pencapaian itu bisa menutup kegagalannya mengantarkan Three Lions ke final Piala pertama dalam kurun 60 tahun, setelah berbalik dikalahkan 1-2 oleh juara bertahan Argentina dalam semifinal.
Kemenangan atas Prancis itu membuat nasib Tuchel terselamatkan setelah beberapa hari sebelumnya dikecam terutama karena taktiknya kala melawan Argentina, sehingga Tim Tango balik mengalahkan Three Lions 1-2 hanya lima menit sebelum waktu normal 90 menit usai.
Tuchel sudah mengisyaratkan ingin terus melatih Inggris, sampai setidaknya mengantarkan Harry Kane cs ke Euro 2028 di Britania Raya dan Republik Irlandia.
Tuchel kini juga telah meredakan kemarahan sebagian pendukung Inggris, dengan cara memainkan sejumlah besar pemain lapis keduanya, termasuk penjaga gawang Dean Henderson.
Seperti halnya Deschamps, Tuchel memainkan tujuh starter baru untuk laga perebutkan tempat ketiga Piala Dunia 2026 ini.
Namun, dia tak bisa menurunkan Kobie Mainoo setelah gelandang Manchester United ini cedera sebelum pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 ini kickoff.
Tuchel juga pastinya senang mengantarkan Jude Bellingham menjadi pemain Inggris pertama yang mencetak tujuh gol dalam satu turnamen Piala Dunia.
Dia tentu semakin senang karena bisa menyaksikan Bukayo Saka mencetak hattrick. Saka menjadi pemain keempat setelah Lionel Messi, Jonathan David, dan Ousmane Dembele yang mencetak hattrick di Piala Dunia 2026.
Lebih istimewa lagi Saka telah menyembuhkan luka lamanya yang dia alami pada Juli 2021 dalam final Euro 2020 ketika dia gagal dalam adu penalti melawan Italia, sehingga Inggris gagal menjuarai Piala Eropa pertamanya.
Dalam laga perebutan tempat ketiga tersebut, Saka berhasil mengeksekusi penalti yang semula hendak diambil Bellingham. Namun, gelandang Real Madrid itu kemudian mempersilakan Saka untuk menjadi eksekutor.
Gol penalti Saka adalah tambahan dua gol yang sebelumnya sudah dia ciptakan dalam laga melawan Prancis ini. Declan Rice dan Ezri Konsa adalah dua pemain Inggris lainnya yang menceta gol.
Inggris sudah memimpin 4-0 sampai selesai babak pertama berkat gol-gol Rice, Konsa, dan Saka. Prancis lalu memempetkan defisit gol itu menjadi 3-4 dalam kurun 21 menit pertama babak kedua, berkat dua gol Mbappe dan satu gol Bradley Barcola.
Penalti Saka menjauhkan lagi Inggris ke kedudukan 5-3, sebelum Ousmane Dembele mengubahnya menjadi 4-5 pada enam menit masa injury. Bellingham lalu menjauhkan Inggris ke kedudukan 6-4, yang menjadi skor akhir pertandingan ini.
Pertandingan penuh pemecahan rekor ini menjadi happy ending atau akhir bahagia bukan hanya untuk Inggris, tapi juga Prancis.
Ini lebih dari sekadar pelipur lara atas kegagalan Inggris mencapai final Piala Dunia 2026.
Mereka juga telah menjaga gengsi Eropa, yang bisa disempurnakan oleh Spanyol, jika tim Matador mengalahkan Argentina dalam final Senin dini hari esok.
Jika berhasil menjadi juara, Spanyol akan menjadi tim Eropa kedua setelah Jerman yang menjuarai Piala Dunia di Benua Amerika.
Pewarta: Jafar M Sidik
Uploader : Abdullah Rifai
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.