Harimau Jawa Sudah Hilang, Badak Jawa Jangan Sampai Menyusul

Jakarta -

Indonesia pernah kehilangan harimau jawa, harimau bali, hingga pari jawa. Kini, para peneliti mengingatkan agar badak jawa tidak menjadi satwa berikutnya yang hanya bisa dikenang melalui foto, arsip, dan koleksi museum.

Harimau bali (Panthera tigris balica) dinyatakan punah pada pertengahan abad ke-20. Harimau jawa (Panthera tigris sondaica) menyusul beberapa dekade kemudian setelah tak lagi ditemukan di alam liar.

Sementara itu, pari jawa (Java stingaree/Urolophus javanicus) ditetapkan berstatus punah (Extinct/EX) oleh International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada 2023.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB University, Dr drh Muhammad Agil, MSc.Agr, kepunahan satwa-satwa tersebut menyisakan pelajaran penting bagi upaya konservasi saat ini.

"Satwa-satwa itu bahkan tidak lagi memiliki material biologi atau material seluler yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan teknologi konservasi modern. Benar-benar punah, tidak ada lagi," kata Agil kepada detikTravel, Selasa (22/9/2026).

Menurut Agil, kondisi itu berbeda dengan pendekatan konservasi modern yang kini mulai memanfaatkan teknologi reproduksi berbantu dan biobank untuk menyimpan material biologis satwa langka.

Material tersebut dapat berupa jaringan, sel, sperma, ovum, maupun DNA yang suatu saat dapat dimanfaatkan untuk mendukung penelitian dan program penyelamatan spesies yang populasinya terus menurun.

"Kalau material biologinya masih ada, masih ada peluang untuk dikembangkan lebih lanjut dengan teknologi yang tersedia di masa depan. Tapi kalau semuanya sudah hilang, peluang itu juga ikut hilang," ujar dia.

Pelajaran itu menjadi semakin relevan ketika melihat kondisi badak jawa saat ini. Seluruh populasi spesies tersebut hanya bertahan di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Meski jumlahnya terus bertambah dan kini mencapai lebih dari 80 individu, para peneliti melihat tantangan lain yang tidak kalah penting, yakni keragaman genetik yang semakin menyempit.

Hasil kajian genetik menunjukkan badak jawa yang tersisa saat ini hanya memiliki dua haplotipe atau garis keturunan genetik dari induk betina. Sekitar 70 persen populasi berasal dari satu haplotipe dominan, sedangkan sisanya berasal dari haplotipe kedua.

"Kondisi ini menjadi perhatian karena berhubungan dengan risiko inbreeding atau perkawinan sedarah," kata Agil.

Menurut dia, semakin sedikit variasi genetik dalam suatu populasi, semakin besar peluang individu yang memiliki hubungan kekerabatan dekat untuk berkembang biak. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat menurunkan kualitas genetik populasi dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit maupun perubahan lingkungan.

Karena itu, Agil menilai konservasi badak jawa tidak cukup hanya mengandalkan perlindungan habitat dan pencegahan perburuan. Pengelolaan populasi secara aktif juga perlu dilakukan untuk meningkatkan keragaman genetik.

Salah satu langkah yang tengah disiapkan pemerintah melalui strategi konservasi badak jawa adalah translokasi dan program perkembangbiakan terkelola (managed breeding). Tujuannya mempertemukan individu-individu dari garis genetik berbeda agar peluang munculnya keturunan dengan variasi genetik yang lebih baik semakin besar.

"Kalau hanya mengandalkan proses alami, belum tentu individu dengan keragaman genetik yang berbeda bisa bertemu dan berkembang biak," ujar Agil.

Dia mencontohkan keberhasilan konservasi burung kondor California (California condor) di Amerika Serikat (AS). Spesies tersebut sempat tersisa 27 individu pada 1980-an sebelum diselamatkan melalui program penangkaran terencana. Kini populasinya telah berkembang menjadi lebih dari 500 ekor.

Selain pengelolaan populasi, Agil menilai pemanfaatan teknologi reproduksi berbantu dan biobank juga harus mulai menjadi bagian penting dalam konservasi satwa langka Indonesia.

Menurut dia, sejumlah negara di Afrika telah lebih dulu menyimpan sperma, jaringan kulit, dan material biologis satwa liar sebagai cadangan genetik. Langkah serupa juga mulai masuk dalam berbagai dokumen strategi konservasi Indonesia.

Teknologi tersebut dinilai penting sebagai langkah antisipasi apabila suatu saat populasi satwa mengalami penurunan drastis akibat bencana, penyakit, atau faktor lainnya.

Namun di atas semua strategi itu, Agil menegaskan ada satu syarat yang tidak bisa ditawar.

"Tidak boleh ada perburuan," katanya.

Menurut dia, berbagai program konservasi akan sulit berhasil apabila perburuan masih terjadi. Pengalaman pada badak sumatera menunjukkan tekanan terhadap populasi dapat terus berlangsung meski berbagai upaya perlindungan telah dilakukan.

Karena itu, penguatan patroli, perlindungan habitat, pengelolaan populasi, hingga pemanfaatan teknologi konservasi harus berjalan bersamaan.

"Harapan kita tentu badak jawa tidak mengalami nasib yang sama seperti satwa-satwa yang sudah hilang dari Indonesia. Karena itu upaya konservasi harus terus diperkuat sejak sekarang," ujar Agil.

(fem/ddn)