Hasil kajian empat kampung bersejarah di Semarang dipamerkan

Hasil kajian empat kampung bersejarah di Semarang dipamerkan

Selasa, 6 Oktober 2026 16:34 WIB

Image Print

Pengunjung melihat pameran hasil kajian empat kampung bersejarah di Unika Soegijapranata Semarang. (ANTARA/HO-Unika Soegijapranata)

Semarang (ANTARA) - Hasil kajian oleh kurang lebih 30 mahasiswa dan dosen perguruan tinggi Indonesia dan Prancis terhadap empat kampung bersejarah di Kota Semarang dipamerkan.

Adapun keempat kampung yang berlokasi di sekitar Kali Semarang tersebut, yakni Kampung Sekayu, Melayu, Bustaman, dan Kranggan.

Koordinator Workshop dari SCU, Christian Moniaga, S.T., M.Ars, di Semarang, Senin, mengatakan kajian tersebut merupakan luaran International Research Workshop "Learning from the Kampung: Stories of Urban Informality and Resilience" pada 6-16 September 2026.

Workshop merupakan rangkaian kerja sama riset antara Soegijapranata Catholic University (SCU) bersama École Nationale Supérieure d’Architecture Paris La Villette (ENSAPLV), Prancis.

Ia mengatakan penelitian tersebut didukung PHC Nusantara dan telah memasuki tahun kedua.

Adapun pameran diselenggarakan di Gedung Henricus Constant, Kampus 1 SCU Bendan pada 29 September - 1 Oktober 2026.

Sebelumnya, pameran serupa telah diselenggarakan di Secret Rack Society, Kota Semarang pada 15–29 September 2026.

Selama 10 hari, para dosen dan mahasiswa melakukan observasi lapangan, pemetaan, dokumentasi, investigasi, serta berinteraksi langsung dengan masyarakat yang kemudian dikembangkan dalam bentuk representasi visual.

Karya yang ditampilkan tidak hanya memperlihatkan kondisi fisik kampung, melainkan juga cerita dan kehidupan masyarakat di sana.

"Kami ingin peserta workshop benar-benar belajar dari kampung, mulai dari ruangnya, masyarakatnya, dan bagaimana kehidupan sehari-hari di sana. Maka dari itu, interaksi langsung dengan masyarakat menjadi penting," katanya.

Sejalan dengan itu, ia pun menilai bahwa keberadaan kampung tidak bisa dilepaskan dari perkembangan Kota Semarang.

"Kampung sangat dengan kehidupan sosial dan ekonomi kita. Apa yang kita lihat (di kampung) sebenarnya juga berkaitan dengan pertumbuhan kota itu sendiri," katanya.

Lebih lanjut, kerja sama dengan ENSAPLV dapat semakin mempertemukan perspektif Indonesia dan Prancis dalam memahami kampung.

Menurut dia, perspektif Prancis yang membawa pengalaman dalam membaca ruang, arsitektur, budaya visual, serta fenomena masyarakat urban dapat melengkapi perspektif pihaknya dalam kedekatan terhadap masyarakat lokal, sejarah, hingga dinamika perkotaan.

Senada dengan itu, Koordinator Workshop dari ENSAPLV, Dr. Jim Njoo mencoba melihat kampung sebagai sebuah kehidupan, di mana ada cerita, memori, aktivitas, hubungan sosial, dan pengalaman masyarakat.

"Semua itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan arsitektur dan bentuk fisik bangunannya," katanya.

Tim peneliti ENSAPLV datang dari berbagai latar belakang keilmuan, mulai dari arsitektur hingga seni visual seperti pembuatan film.

"Visual menjadi cara lain untuk memahami dan mendokumentasi kampung selain hanya dari bentuk ruang, melainkan juga menangkap atmosfer, aktivitas, dan pengalaman yang terjadi di dalamnya," katanya.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Edhy Susilo
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.