IHSG Dibuka Anjlok 1%, Ini Penyebabnya

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan pada awal perdagangan Selasa (29/9/2026). Berdasarkan data Stockbit sekitar pukul 09.04 WIB, indeks berada di level 6.086,35, turun 61,51 poin atau 1,00% dari penutupan sebelumnya di 6.147,86. Angka ini lebih dalam dibandingkan posisi beberapa menit sebelumnya, ketika indeks masih bertahan di atas level 6.119.

IHSG dibuka di level 6.118,81 dan sempat menyentuh titik tertinggi 6.126,62, sebelum turun tajam pada menit-menit pertama. Setelah sempat bergerak mendatar di kisaran 6.120, indeks kembali meluncur turun secara bertahap dan mencapai level terendah harian di 6.086,14.

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi meningkat pesat menjadi 35,12 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp741,93 miliar. Lonjakan ini menandakan aktivitas pasar yang semakin ramai seiring berjalannya sesi, dan sebagian besar transaksi berlangsung di tengah tekanan turun.

Penyebab pelemahan IHSG hari ini bersal dari sektor teknologi yang turun 0,17%, disusul sektor kesehatan yang melemah 0,12%, dan sektor real estate -11%.

Saham-saham pemberat IHSG pagi ini antara lain, PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO), PT. Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT. Fortune Indonesia Tbk. (FORU), PT. Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).

Sementara saham-saham penopang koreksi IHSG antara lain, PT. Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT. Olympus Strategic Indonesia (kode saham perlu dicek), PT. VKTR Teknologi Mobilitas Tbk. (VKTR), dan PT. United Tractors Tbk. (UNTR).

Tekanan terhadap IHSG terjadi bertepatan dengan mulai berlakunya kebijakan baru BEI yang menurunkan harga minimum saham dari Rp50 menjadi Rp1 per lembar di pasar reguler dan pasar tunai mulai Senin (28/9/2026).

Perubahan tersebut juga disertai penyesuaian batas auto rejection. Untuk saham dengan harga Rp1-Rp10, batas Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB) ditetapkan sebesar Rp1, sementara ARB asimetris 15% masih berlaku untuk saham dengan harga di atas Rp10 hingga akhir 2026.

BEI menyebut perubahan harga minimum tersebut ditujukan untuk memperluas rentang perdagangan saham, meningkatkan kualitas price discovery, mendorong likuiditas, serta memberi fleksibilitas lebih besar bagi investor dalam mengelola portofolio.

Di saat bersamaan, tekanan eksternal masih membayangi pasar domestik. Kebijakan moneter global yang lebih ketat, penguatan dolar AS, kenaikan harga energi, serta tingginya suku bunga global masih berpotensi mendorong volatilitas pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Dari pasar mata uang, rupiah kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup terdepresiasi 0,53% ke posisi Rp17.965/US$, hanya berjarak 35 poin dari level psikologis Rp18.000/US$.

(rob/rob) [Gambas:Video CNBC]